Pernahkah teman-teman membayangkan sebuah negara yang luasnya tidak lebih besar dari sebuah provinsi, namun menyandang predikat sebagai negara paling kaya di dunia? Ya, itulah Luksemburg. Negara kecil yang dikelilingi oleh Jerman, Belgia, dan Prancis ini memang unik. Meskipun mungil, ia termasuk dalam jajaran elit ekonomi global. Sebagai seorang Dutch Specialist, mengunjungi tetangga Belanda yang satu ini selalu memberikan perspektif baru tentang kemewahan yang tenang.
Dalam tulisan kali ini, aku akan merangkum pengalaman pribadiku saat berkunjung ke sana, membedah alasan teknis mengapa mereka begitu kaya, hingga memberikan tips terbaru 2026 bagi teman-teman yang ingin mampir ke sana.
Pandangan mata burung dari “Balkon Terindah”, melihat kedamaian distrik Grund di bawah lembah.
Mengapa Luksemburg Disebut Negara Paling Kaya di Dunia?
Banyak yang bertanya-tanya, apa rahasia di balik kemakmuran negara mungil ini? Hingga tahun 2026, Luksemburg masih secara konsisten memegang predikat sebagai negara dengan PDB (Produk Domestik Bruto) per kapita tertinggi di dunia.
Sederhananya, PDB adalah total nilai barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara dalam setahun. Luksemburg bisa menjadi yang nomor satu bukan hanya karena mereka pusat keuangan dunia dengan utang negara yang sangat rendah, tetapi ada alasan teknis yang unik: Tenaga Kerja Lintas Batas.
Hampir setengah dari pekerja di Luksemburg sebenarnya tinggal di negara tetangga seperti Prancis, Jerman, dan Belgia. Mereka setiap hari datang untuk bekerja, menyumbang pendapatan besar bagi negara Luksemburg, namun mereka tidak terhitung sebagai penduduk tetap di sana. Inilah yang membuat angka PDB per kapitanya “meledak” karena pembaginya (jumlah penduduk asli) relatif sedikit.
Namun, kekayaan Luksemburg bukan hanya soal angka di atas kertas. Berdasarkan pengalaman pribadiku saat berkunjung langsung, kekayaan itu sangat terasa dari tata kelola kotanya yang luar biasa rapi, budayanya yang terjaga, serta alamnya yang indah. Meski angka ekonomi dunia berubah-ubah setiap tahun, Luksemburg tetap membuktikan bahwa stabilitas bisnis dan kenyamanan warganya adalah prioritas utama.
Saat aku berkunjung tahun 2021 lalu, pesonanya sudah luar biasa. Dan hebatnya, hingga tahun 2026 ini, Luksemburg tetap konsisten menjaga predikatnya sebagai negara paling makmur dengan pelayanan publik yang semakin canggih.
Berlatar deretan bendera dan Jembatan Adolphe. Ikonik banget.
Perjalanan dari Belanda ke Luksemburg
Saat itu aku dan suami berangkat dari rumah, kota Nijmegen Belanda menuju Luksemburg dengan kendaraan darat. Perjalanan memakan waktu sekitar 4-5 jam. Jika teman-teman berangkat dari Amsterdam pun durasinya tidak jauh berbeda.
Selama perjalanan darat ini, tentu kami berhenti di pom bensin untuk istirahat, makan, dan minum. Menjaga kondisi tetap fit saat mengemudi sangat penting. Kami berhenti untuk makan siang di pom bensin, dan rasanya nikmat sekali bisa melakukan perjalanan berduaan. Ternyata, kebahagiaan sesederhana itu sudah luar biasa bagi aku.
Jika kunjungan teman-teman singkat, lokasi hotel sangatlah krusial. Aku memilih menginap di hotel bintang 4 di tengah kota agar mudah keluar kapan saja tanpa harus jalan jauh menuju highlight kota.
Salah satu keunikan hotel tempat saya menginap adalah adanya lift di sebelah hotel yang langsung membawa kami ke pusat kota. Dalam perjalanan menuju pusat, kami melewati gedung Tribunal yang megah.
Gedung Tribunal yang megah, salah satu bangunan ikonik yang saya lewati saat menuju pusat kota Luksemburg.
Itinerary 2 Jam: Jelajah Pusat Kota Luksemburg
Teman-teman bisa meminta brosur “Things to See” di resepsionis hotel. Berdasarkan brosur tersebut, jelajah pusat kota Luksemburg ternyata bisa dilakukan hanya dalam waktu 2 jam saja! Cocok untuk teman-teman yang hanya punya waktu setengah hari.
Jembatan Adolphe: Ikon Kemegahan Kota
Jembatan Adolphe bukan sekadar penghubung jalan, melainkan simbol nasional Luksemburg. Dibangun antara tahun 1900 hingga 1903 pada masa pemerintahan Grand Duke Adolphe, jembatan ini dulunya sempat memegang rekor dunia sebagai jembatan lengkung batu terbesar di dunia.
Arsitekturnya yang memukau dirancang oleh Paul Séjourné, seorang insinyur asal Prancis. Keunikan utamanya adalah lengkungan batunya yang raksasa dengan bentang mencapai 85 meter. Jembatan ini menghubungkan pusat kota (Ville Haute) dengan area stasiun kereta (Gare), melintasi Lembah Pétrusse yang hijau dan dalam.
Keindahan arsitekturnya sangat memukau saat dilihat dari kejauhan maupun saat dilewati. Ada fakta menarik yang sering dilewatkan turis: di bawah jalur kendaraan, terdapat jembatan gantung khusus untuk pejalan kaki dan pesepeda yang baru ditambahkan beberapa tahun lalu. Berjalan di jalur bawah ini memberikan sensasi melayang di atas lembah dengan pemandangan pilar-pilar batu yang megah. Jika teman-teman ke Luksemburg, wajib hukumnya berfoto dengan latar jembatan ini dari Place de la Constitution.
Keindahan Jembatan Adolphe yang ikonik, penghubung megah antara pusat kota tua dengan area modern di Luksemburg.
Place de la Constitution & Monumen Gëlle Fra
Di alun-alun ini terdapat “Gëlle Fra” atau Monumen Wanita Emas yang sangat ikonik. Patung perunggu berlapis emas ini didirikan pada tahun 1923 untuk mengenang para sukarelawan Luksemburg yang gugur dalam Perang Dunia Pertama.
Fakta uniknya, patung ini sempat dihancurkan oleh penjajah Jerman pada tahun 1940, lalu “menghilang” selama puluhan tahun. Secara ajaib, patung aslinya ditemukan kembali di bawah tribun stadion olahraga pada tahun 1980, direstorasi, dan dikembalikan lagi ke atas pilarnya. Kini, Gëlle Fra berdiri sebagai simbol kebebasan dan ketangguhan rakyat Luksemburg. Dari Lapangan Konstitusi ini, teman-teman bisa menikmati panorama luar biasa indah ke arah Lembah Pétrusse dan Jembatan Adolphe.
Cité Judiciaire
Kompleks bangunan pengadilan ini terletak di Plateau du Saint-Esprit. Arsitekturnya sangat rapi dan memberikan kesan wibawa sebuah negara maju.
Chemin de la Corniche: Balkon Paling Indah di Eropa
Penulis Luxembourg, Batty Weber, menyebut tempat ini sebagai “Balkon paling indah di Eropa”, dan setelah berdiri di sana, saya setuju sepenuhnya. Jalur pejalan kaki ini dibangun di atas tembok pertahanan kota peninggalan abad ke-17 yang membentang di sepanjang tepi tebing.
Yang membuatnya istimewa adalah posisinya yang sangat tinggi, sehingga kita bisa melihat distrik Grund di bawah lembah dengan sangat jelas. Pemandangan rumah-rumah tua beratap abu-abu yang berjejer rapi di pinggir sungai Alzette benar-benar terlihat seperti miniatur mainan yang cantik. Panorama landskapnya sungguh mempesona, menyuguhkan perpaduan antara kokohnya benteng batu kuno dan asrinya lembah hijau di bawahnya. Mata benar-benar tidak bosan memandang keindahan yang terasa sangat tenang ini.
Menikmati “Balkon Terindah di Eropa”. Pemandangannya benar-benar juara.
Bock – Boulevard Thorn & Three Towers
Berjalan kaki di area ini akan membawa teman-teman kembali ke masa abad pertengahan. Kawasan Bock adalah tempat di mana sejarah Luksemburg bermula pada tahun 963, ketika Count Siegfried membangun kastil pertamanya di atas tebing batu raksasa ini.
Yang paling ikonik di sini adalah Three Towers (Les Trois Tours). Menara ini terdiri dari satu menara persegi di tengah (dari abad ke-14) dan dua menara bundar di sampingnya (dari abad ke-18). Dulunya, ini adalah bagian dari gerbang pertahanan kota yang sangat kokoh. Menara-menara ini telah melewati berbagai perang dan pengepungan, namun tetap berdiri tegak hingga sekarang.
Saat kunjungan kami, cuaca sangat asyik di 17 derajat, ditemani terik matahari dan angin sepoi-sepoi. Berjalan menyusuri Boulevard Thorn memberikan perspektif yang berbeda tentang betapa kuatnya pertahanan kota ini di masa lalu. Dari sekitar area monumen bersejarah ini, teman-teman akan menemukan pemandangan lembah Alzette dan distrik Grund yang sangat cantik dari ketinggian. Rasanya seperti melihat miniatur kota yang sangat estetik.
Three Towers (Les Trois Tours), monumen bersejarah yang kokoh di kawasan Bock. Gerbang pertahanan abad pertengahan yang masih berdiri tegak hingga kini.
Parc Pescatore & Panoramic Elevator: Adrenalin di Atas Kaca
Sebelum memasuki Panorama Lift, kita akan melewati Taman Pescatore. Taman ini untuk umum dan diambil dari nama Jean-Pierre Pescatore, seorang dermawan besar di Luksemburg. Di sana tertera papan keterangan digital yang membuat aku terkagum-kagum: tercatat sekitar 202 sepeda masuk per hari, dan total per tahun (hingga September 2021) mencapai 48.838 sepeda. Banyak yah! ;-) Ini menunjukkan betapa sadarnya warga di sini terhadap gaya hidup ramah lingkungan.
Kagum.Papan ini mencatat jumlah sepeda yang lewat setiap harinya.
Menikmati suasana tenang di taman sebelum lanjut menguji adrenalin di lift kaca
Setelah melewati taman, tibalah kami di Panoramic Elevator of the Pfaffenthal. Lift kaca ini sangat canggih dan menghubungkan lembah Pfaffenthal dengan pusat kota. Ketinggiannya mencapai 71 meter, dan jujur saja, saat berdiri di dalamnya, jantung aku berdegup kencang.
Meskipun lift ini sangat aman dan kuat, ada bagian lantai kaca yang transparan di ujung balkonnya. Aku akui, aku sempat merinding dan merasa takut saat berdiri di atas kaca tersebut karena aku memang agak takut ketinggian. Namun, rasa takut itu terbayar lunas dengan panorama menakjubkan yang tersaji di depan mata. Melihat kota dari ketinggian dengan sudut pandang 360 derajat benar-benar pengalaman yang tak terlupakan. Aku sangat merekomendasikan ini bagi teman-teman, terutama karena fasilitas luar biasa ini bisa dinikmati secara GRATIS.
Berdiri di atas kaca setinggi 71 meter. Meski merinding karena takut ketinggian, pemandangannya juara.
Transportasi Gratis (Update 2026): Ingat, Luksemburg adalah negara pertama di dunia yang menggratiskan seluruh transportasi umum di dalam negerinya. Tidak perlu tiket bus atau kereta di dalam kota.
Catatan: Ini kontras sekali dengan Belanda yang harga tiket keretanya terus naik. Di Luksemburg, sejak Maret 2020 hingga tahun 2026 ini, bus, trem, dan kereta api kelas dua di seluruh negeri tetap gratis. Jadi kalau teman-teman mau ke kota lain di luar pusat kota pun, tetap gratis. Benar-benar servis negara kaya.
Keamanan: Sebagai negara paling kaya, tingkat keamanan di sini sangat tinggi, sehingga sangat ramah untuk solo traveler muslimah yang ingin jalan kaki sendirian atau solo traveler muslimah.
Makanan Halal: Untuk teman-teman muslimah, area sekitar stasiun pusat memiliki banyak pilihan restoran Lebanon dan India yang ramah halal.
Waktu Salat: Gunakan aplikasi salat karena suara azan tidak terdengar di ruang publik.
Berapa lama waktu ideal di Luksemburg? 1-2 hari sudah cukup untuk menjelajahi pusat kota dan sekitarnya. Namun, jika ingin santai menikmati museum dan lembah, menginap satu malam adalah pilihan terbaik.
Apakah biaya hidup di sana mahal? Biaya makan dan hotel kurang lebih setara dengan kota besar di Belanda atau Prancis. Namun, karena transportasi umum sepenuhnya gratis, biaya perjalanan kamu bisa jauh lebih hemat dibanding di Amsterdam atau Paris.
Apa bahasa utama yang digunakan? Bahasa resminya ada tiga: Prancis, Jerman, dan Luksemburg. Tapi teman-teman jangan khawatir, bahasa Inggris sangat umum digunakan di area wisata dan hotel.
Apakah Luksemburg ramah untuk Muslimah Traveler? Sangat ramah! Luksemburg adalah salah satu negara teraman di dunia. Mencari makanan vegetarian atau restoran Timur Tengah juga tidak sulit di pusat kota.
Kapan waktu terbaik untuk berkunjung? Musim semi (April-Juni) dan musim gugur (September-Oktober) adalah waktu terbaik. Pemandangan di lembah dan “Balkon Terindah” akan terlihat sangat cantik dengan warna-warni pepohonan.
Apakah perlu visa khusus? Tidak, jika teman-teman sudah memiliki Visa Schengen (misalnya dari Belanda), teman-teman bisa bebas masuk ke Luksemburg tanpa pemeriksaan paspor tambahan di perbatasan.
Perjalanan Pulang ke Belanda
Setelah puas nongkrong di pusat kota yang ramai dengan turis berbagai bangsa, saatnya kembali ke Belanda. Perjalanan pulang melewati Viaduct de Remouchamps di Belgia, di mana kita bisa menikmati panorama Ardenne yang legendaris dari atas jembatan.
Perjalanan pulang menuju Belanda dengan hati senang setelah puas menjelajahi negara terkaya di dunia.
Ceritakan Pendapatmu di Kolom Komentar
Luksemburg mungkin kecil, tapi pesonanya luar biasa besar. Apakah teman-teman tertarik untuk mampir ke negara terkaya ini saat liburan ke Eropa Barat nanti? Yuk, ceritakan pendapatmu di kolom komentar!
GooglePhoto Album Koleksi potret cantik di kota Luxembourg, kota kecil tapi punya negara terkaya di dunia. Koleksi gambar bisa di cek di album kenangan liburan saya di GooglePhotos LUXEMBOURG, Luxembourg
YouTube
Hai👋 aku Elly, Penulis di balik blog ini. Berbekal 20 tahun hidup di Belanda, aku adalah Belanda-Specialist yang paham betul seluk-beluk hingga blusukan di Negeri Kincir Angin. Aku siap membantumu menikmati perjalanan autentik tanpa drama. Selain menulis, aku aktif sebagai tour leader di Belanda. Yuk, kenalan lebih jauh atau tanya-tanya seputar rencana liburanmu di Negeri Kincir Angin.
[…] kamu mencari hotel yang lokasinya super strategis, dekat tempat wisata utama, dan punya fasilitas lengkap, Hotel Centrum Istanbul bisa jadi pilihan […]
✍️ Sejak tahun 2012, saya mulai menulis blog pribadi ellyafriani.blog sebagai ruang untuk mencatat kisah-kisah perjalanan saya, baik sebagai tour guide maupun sebagai penjelajah dunia.
Leave a reply to Desa terindah di dunia di Durbuy, Belgia | Indohollandtours.blog – EP Travel Blogger Cancel reply