Ada perjalanan yang ditutup dengan sebuah tempat yang membuat kita berhenti sejenak dan hanya bisa memandang. Begitulah perasaanku ketika sampai di Taman Nasional Kelimutu, Flores.
Hari itu adalah hari ke-6, sekaligus hari terakhir perjalanan open trip kami. Bersama rombongan yang sama dan pemandu wisata yang sama pula, perjalanan kami akhirnya membawa kami ke sebuah tempat yang sejak dulu sudah sering kudengar namanya: Danau Kelimutu, danau tiga warna yang berada di puncak Gunung Kelimutu.
Tahun 2017 itu, aku datang bukan hanya untuk melihat warna air danaunya. Aku juga datang membawa rasa penasaran terhadap berbagai cerita dan mitos yang selama ini melekat pada Kelimutu.
Dan ternyata, perjalanan terakhir ini menyimpan cerita yang cukup panjang.
Dalam tulisan ini, aku ingin mengajak kamu melihat Danau Kelimutu dari sudut pandang perjalanan nyataku tahun 2017—mulai dari trekking menuju puncak, melihat tiga danau kawah, mendengar cerita tentang perubahan warnanya, hingga mengakhiri perjalanan di Ende dengan mengunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno dan menikmati ikan bakar di warung lokal.
Taman Nasional Kelimutu yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kepulauan Flores, Indonesia.
Hari ke-6 (hari terakhir), bersama group yang sama 12-orang peserta dan pemandu wisata yang sama pula.
Hari terakhir dalam perjalanan Flores kami akhirnya tiba.
Setelah lima hari berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, hari ini kami menuju kawasan Taman Nasional Kelimutu. Rasanya ada sedikit perasaan campur aduk. Senang karena masih ada satu tempat istimewa yang akan kami kunjungi, tetapi di sisi lain perjalanan enam hari lima malam ini sebentar lagi akan berakhir.
Taman Nasional Kelimutu memang menjadi salah satu tempat wisata yang banyak dikunjungi wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri. Daya tarik utamanya tentu saja tiga danau kawah yang berada di kawasan Gunung Kelimutu.
Yang membuatnya semakin menarik adalah warna air ketiga danau tersebut tidak selalu tetap. Warna dapat berubah dari waktu ke waktu karena proses alami yang berkaitan dengan kondisi kimia masing-masing danau.
Kalau ingin melihat informasi kawasan yang lebih aktual, Taman Nasional Kelimutu sekarang juga memiliki situs resmi Balai Taman Nasional Kelimutu.
Trekking Menuju Puncak Kelimutu
Lebih kurang 20–30 menit jarak trekking hingga tiba di kawasan puncak Kelimutu.
Saat itu kami berjalan bersama menuju kawasan puncak. Jalurnya membuat perjalanan terasa semakin nyata. Bukan hanya datang, melihat danau, lalu pulang. Ada sedikit usaha yang harus dilakukan untuk sampai ke tempat di mana pemandangan itu menunggu.
Begitu sampai di atas, rasa lelah seperti terbayar.
Di hadapan kami terbentang tiga danau kawah yang menjadi ikon Kelimutu.
Tiga Danau Kawah dengan Warna yang Bisa Berubah
Di dalam kawasan Taman Nasional Kelimutu, persis di atas puncak gunung berapi, terdapat tiga danau kawah vulkanik dengan warna yang berbeda.
Pemandangan dari atas puncak Gunung Kelimutu ini tampak sangat indah.
Dulu aku mengenalnya sebagai “Danau Tiga Warna”.
Tetapi setelah aku membaca kembali informasi mengenai Kelimutu untuk menulis ulang cerita lama ini, ternyata warna danau memang tidak selalu tiga warna tertentu. Warna-warnanya dapat berubah dari waktu ke waktu. Indonesia Travel juga mencatat bahwa danau-danau Kelimutu pernah terlihat dalam kombinasi warna yang berbeda-beda.
Jadi, justru perubahan warna itulah salah satu hal yang membuat Kelimutu begitu menarik.
Mitos dan Cerita yang Aku Dengar tentang Kelimutu
Seperti yang kita ketahui, setiap tempat wisata pasti memiliki mitos-mitos tersendiri.
Begitu juga dengan julukan si “Danau Tiga Warna” ini.
Saat perjalanan tahun 2017 itu, aku mendengar berbagai cerita mengenai kemisteriusan Danau Kelimutu. Salah satunya adalah cerita tentang seorang peneliti asal Belanda yang dikaitkan dengan perubahan warna danau.
Aku ingat bagaimana cerita-cerita seperti itu membuat perjalanan terasa semakin menarik.
Namun, setelah aku menulis ulang artikel lama ini bertahun-tahun kemudian, aku memilih menempatkan bagian tersebut sebagai cerita yang aku dengar saat perjalanan, bukan sebagai fakta sejarah yang sudah terverifikasi.
Karena bagiku, ada perbedaan antara cerita yang kita dengar di perjalanan dan informasi sejarah yang memang memiliki sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dan justru itulah salah satu alasan kenapa aku senang membuka kembali tulisan-tulisan lamaku.
Warna Danau Kelimutu Tidak Selalu Sama
Ternyata, warna-warnanya bukan hanya tiga.
Namun, menurut sedikit penjelasan dari Abang Eman, bahwa pernah pula di antara bulan Januari dan November 2016, warna kawah berubah sampai enam kali.
Maka itu, kadang-kadang sulit untuk diprediksi tentang perubahan warna-warna ini.
Dalam tulisan lamaku, aku menuliskan bahwa perubahan warna terjadi akibat penyesuaian status reduksi masing-masing danau.
Kalau sekarang aku boleh memperhalusnya, secara umum perubahan warna danau Kelimutu memang berkaitan dengan proses kimia dan kondisi geologi di masing-masing kawah. Sumber resmi pariwisata Indonesia juga menjelaskan bahwa warna ketiga danau dapat berubah karena reaksi kimia alami.
Jadi, bukan sekadar “danau yang warnanya berubah-ubah”, tetapi ada proses alam yang membuat fenomena itu terjadi.
Dari Puncak Kelimutu, Aku Menikmati Alam Flores
Pemandangan dari atas puncak Gunung berapi ini tampak sangat indah.
Di sekitar kawasan ada juga sebuah danau yang menyendiri, seperti foto di bawah ini. Sebuah danau yang diselimuti oleh pohon-pohon serta alam kehijauan.
Aku berdiri dan memandang sekeliling.
Setelah beberapa hari menjelajahi Flores, pemandangan seperti ini terasa berbeda. Alam Flores seperti tidak pernah kehabisan cara untuk membuatku berhenti mengambil gambar.
Di atas puncak juga ada satu tugu. Aku lupa arti dari tugu tersebut.
Pengalaman Kami Saat Berada di Puncak Oia, pada saat itu kami sangat-sangat dianjurkan oleh pekerja Dinas setempat bahwa wisatawan disarankan untuk berdiri di atas tangga dari tugu ini.
Ini bersangkutan karena khawatirnya terjadi gempa bumi yang tidak terduga.
Maka kami sebagai wisatawan dihimbau untuk tidak keluar dari pagar, dan tetap berdiri di atas tugu tersebut. Tugu yang disediakan tempat duduk juga.
Catatan kecil untuk pembaca masa kini: pengalaman dan arahan keselamatan yang aku ceritakan di atas adalah berdasarkan kunjunganku pada 2017. Untuk aturan masuk, jalur, kondisi kawasan, dan petunjuk keselamatan terbaru, sebaiknya selalu mengikuti arahan resmi pengelola Taman Nasional Kelimutu saat berkunjung. Situs resmi Balai Taman Nasional Kelimutu menyediakan informasi wisata dan pengumuman terkini.
Setelah puas menikmati Danau Kelimutu, perjalanan kami berlanjut menuju kota Ende.
Hari itu bukan hanya tentang alam.
Kami juga akan mengunjungi sebuah tempat yang memiliki bagian penting dalam sejarah Indonesia.
Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende
Kali ini kunjungan kami ke kota Ende.
Kami berkunjung ke rumah pengasingan (taman) Bung Karno, presiden pertama Indonesia.
Beliau adalah seorang aktivis politik yang akibat keaktifannya digulingkan dari Bandung oleh penguasa kolonial Belanda.
Bung Karno memang pernah menjalani masa pengasingan di Ende pada 1934–1938. Rumah pengasingannya dan beberapa situs yang berkaitan dengan masa tersebut merupakan bagian dari warisan sejarah Ende. Pemerintah juga mencatat Rumah Pengasingan Bung Karno dan Taman Renungan Bung Karno sebagai situs yang berkaitan dengan sejarah pengasingannya.
Sayang, pada saat itu rumah beliau tutup, maka kami tidak berkesempatan untuk melihat isi dalam rumah di mana beliau dulu tinggal.
Abang Eman menjelaskan, kalau beliau dulu suka menghabiskan waktunya duduk di bawah naungan pohon-pohon besar, di mana ilham untuk membentuk gagasan tentang 5 prinsip pendirian bangsa ia dapatkan.
Cerita mengenai Bung Karno, Ende dan Pancasila memang memiliki tempat penting dalam sejarah kota ini. Dokumentasi pemerintah juga mencatat Taman Renungan Bung Karno dan pohon sukun sebagai salah satu situs yang berkaitan dengan masa pengasingannya di Ende.
Sebuah kota kecil bernama Ende, tempat kami makan malam.
Di kota ini berjejer warung-warung di tepi jalan, yang menyediakan berbagai jenis ikan-ikan segar yang siap disaji dengan berbagai model masakan.
Sore itu, sekitar pukul 6, kami mulai mengambil tempat duduk.
Tidak berapa lama, seorang pelayan menghampiri kami dan menyodorkan sebuah kartu menu dengan jenis-jenis makanan dan minuman yang tersedia.
Tentu saja, hampir semua kami memesan ikan bakar.
Tidak lama, hidangan pun tersaji di atas meja.
Sajian yang sangat tradisional yaitu nasi putih, lalapan mentah, ikan bakar dan tidak lupa pula sambal terasi.
Setelah beberapa hari makan bersama di perjalanan, makan malam sederhana di warung lokal Ende terasa seperti penutup yang pas.
Tidak mewah.
Tidak dibuat-buat.
Hanya makanan sederhana, ikan bakar, sambal, dan cerita perjalanan yang sebentar lagi selesai.
Hari Terakhir: Trip Flores Pun Usai
Hari ini hari ke-6, adalah hari terakhir kami.
Maka trip Flores pun usai.
Enam hari lima malam ternyata bisa meninggalkan begitu banyak cerita.
Dari Labuan Bajo, Pulau Kelor, Rinca, Padar, Pink Beach, Gili Lawa, Waerebo, Ruteng, hingga akhirnya Kelimutu dan Ende.
Ketika perjalanan berakhir, yang tertinggal bukan hanya foto-foto.
Ada wajah orang-orang yang kami temui, makanan yang kami makan bersama, perjalanan di atas boat, tawa rombongan, rasa lelah saat trekking, dan tentu saja kenangan yang bertahun-tahun kemudian masih bisa kubuka kembali melalui tulisan ini.
Aku menulis perjalanan ini pada 2017. Hari ini, ketika aku membacanya kembali, rasanya seperti membuka album lama. Bedanya, sekarang aku bisa melihat perjalanan itu dengan mata yang sedikit berbeda.
Flores yang Masih Tinggal dalam Ingatan
Perjalanan Flores tahun 2017 memang sudah lama berlalu.
Tetapi beberapa perjalanan tidak benar-benar selesai ketika kita kembali ke rumah.
Ia tinggal di foto.
Tinggal di tulisan.
Dan kadang muncul kembali ketika kita membuka album lama lalu tersenyum sendiri.
Danau Kelimutu menjadi salah satu penutup perjalanan Flores yang paling aku ingat.
Bukan hanya karena tiga danaunya.
Tetapi karena hari itu adalah hari terakhir dari sebuah perjalanan panjang yang penuh cerita.
Punya impian menjelajahi Flores?
Kalau suatu hari kamu berkesempatan datang ke Flores, jangan hanya datang untuk mengejar foto-foto cantik. Beri waktu untuk menikmati alamnya, berbincang dengan masyarakat lokal, mencicipi makanan setempat, dan mendengarkan cerita dari orang-orang yang mengenal daerah itu.
Dan kalau kamu sampai di Kelimutu, ikuti selalu informasi dan petunjuk terbaru dari pengelola Taman Nasional Kelimutu, karena pengalaman perjalananku di atas adalah catatan pribadi dari tahun 2017.
Semoga catatan lama ini bisa menjadi inspirasi untuk perjalananmu sendiri. ❤️
Jika membutuhkan guide lokal untuk trip kemari, mungkin nomor telefon Abang Emanuelle Bey bermanfaat.
Nomor beliau adalah +62(0)82175703678.
Catatan: Nomor guide ini aku cantumkan berdasarkan catatan perjalanan pribadiku pada tahun 2017.
Lihat Perjalanan Flores dalam Video & Kenangan 2017
Video Perjalanan Flores
Ingin melihat perjalanan ini dalam bentuk video? Aku juga mendokumentasikan perjalanan Flores ini dalam sebuah film singkat berdurasi sekitar 20 menit yang pernah aku publikasikan di YouTube.
Kenangan di Facebook Tahun 2017 Selain menulisnya di blog, saat itu aku juga membagikan beberapa foto dan cerita perjalanan di Facebook.
Kalau penasaran dengan suasana dan komentar teman-temanku ketika melihat perjalanan ini pada tahun 2017, kamu bisa melihat postingan lamaku:
Facebook 2017 – Kelimutu National Park, Indonesia Foto dan komentar dari tahun 2017 ini sengaja tetap aku simpan. Buatku, ini bukan sekadar postingan lama, tetapi bagian dari arsip perjalanan yang memperlihatkan bagaimana aku melihat Flores pada saat itu.
Lanjut Membaca Cerita Perjalanan Flores Perjalanan Flores ini tidak berhenti di Pulau Kelor. Masih ada banyak cerita dari perjalanan enam hari lima malam yang sama.
Artikel ini akan segera terbit. Jika halaman belum bisa dibuka, silakan daftar Newsletter EllyAfriani.blog. Artikel terbaru akan dikirim langsung ke emailmu setiap tanggal 15.
Postingan Terkait: Tempat Wisata di Indonesia
2 responses to “Danau Kelimutu Flores: Tiga Danau, Warna Berubah & Kisah Perjalanan Hari Terakhir”
✍️ Sudah 20 tahun saya menetap di Belanda dan sejak 2012 mulai menulis di ellyafriani.blog sebagai Dutch Specialist. Di sini, saya berbagi cerita seru keseharian di Belanda, panduan jalan-jalan halal, dan catatan LIFE & HALAL TRAVEL DIARIES saya menjelajahi dunia.
Leave a Reply