CATATAN HIDUP & PERJALANAN DI BELANDA

Pengalaman hidup sebagai expat, tips sehari-hari, serta panduan wisata halal di Belanda dan sekitarnya

Tujuh rumah adat kerucut Mbaru Niang di Desa Wae Rebo Flores dari ketinggian.

Menjenguk Waerebo: Kisah 7 Rumah Adat Mbaru Niang di Flores

Desa Waerebo bukan sekadar destinasi, ia adalah perjalana, yang menembus kabut hutan Flores untuk menemukan kearifan lokal yang masih terjaga murni di ketinggian 1.100 mdpl.

Di hari ke-empat, saatnya menjelajahi eksotisme laut Flores, kaki aku akhirnya berpijak di tanah Manggarai. Destinasi yang paling aku nanti-nanti dalam seluruh rangkaian trip ini adalah Desa Waerebo. Sebuah kampung adat tradisional yang ikonik, terletak tersembunyi di tengah perbukitan hijau Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Sebagai seorang traveler, mengunjungi Waerebo adalah tentang menguji tekad dan menghargai warisan leluhur.

Daftar Isi

  1. Daftar Isi
  2. Persiapan Sebelum Treking: Tongkat Kayu dan Tekad Baja
  3. Rute dan Akses Menuju Waerebo
    1. Estimasi Waktu dan Medan Perjalanan
  4. Tradisi Memukul Kentongan: Tanda Ketibaan di Gerbang Desa
  5. Sejarah Waerebo: Jejak Nenek Moyang dari Minangkabau
  6. Arsitektur Tradisional Waerebo: Mengenal Mbaru Niang
    1. Filosofi dan Makna Tujuh Rumah Kerucut
  7. Menjelajahi Bagian Dalam Mbaru Niang
    1. Tenda (Tingkat I)
    2. Lutur
    3. Tungku atau Hapo: Jantung Kehidupan di Dalam Rumah
  8.  
  9. Upacara Penyambutan oleh Bapak Alexander Ngadus
  10. Keajaiban Tengah Malam: Berburu Milky Way di Waerebo
  11. Mengenal Sisi Spiritual dan Sosial Waerebo
    1. Compang: Titik Pusat yang Sakral:
    2. Lelah yang Terbayar dengan Kebahagiaan
    3. Kehangatan Pagi dan Cerdasnya Anak-Anak Waerebo
  12.  
  13. Kehidupan Sehari-hari: Bertahan di Tengah Keterbatasan Akses
  14. Mata Pencaharian: Antara Kebun Kopi dan Tenun
  15. Waerebo di Mata Dunia: Penghargaan UNESCO
  16. Pesan Penting: Mendukung Ekonomi Masyarakat Lokal
  17. Akhir Kata: Pesona yang Tak Terlupakan
  18. Daftar Perjalanan Jelajah Flores
  19. Media Sosial

Hari ke-4: Aku bersama rombongan yang sama, 12-orang peserta dan guide lokal yang sama pula.

Persiapan Sebelum Treking: Tongkat Kayu dan Tekad Baja

Desa Waerebo merupakan kampung adat tradisional yang khas dan autentik di Kabupaten Manggarai. Terletak di ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut, desa ini berada di tengah keterbatasan akses yang mengharuskan kami berjalan kaki membelah perbukitan dan hutan selama kurang lebih 3 jam.

Namun, apa pun perjuangannya, aku tidak menyerah begitu saja. Keinginan aku untuk melihat langsung pesona Waerebo sudah bulat sejak awal. Sebelum memasuki pintu gerbang pendakian, ada seorang Bapak yang menjual tongkat kayu seharga Rp 10.000. Tongkat sederhana ini ternyata sangat bermanfaat dan membantu mengurangi rasa lelah selama treking. Jika tidak ingin membeli, juga bisa mencari ranting kayu di sepanjang perjalanan untuk dijadikan tumpuan kaki.

Rute dan Akses Menuju Waerebo

Mengenai transportasi, perlu diketahui bahwa tidak ada kendaraan yang bisa masuk langsung ke dalam desa. Bus hanya mengantar kami sampai ke pangkalan ojek. Dari sana, para tukang ojeklah yang membawa kami menuju Pos I (Was Loba), sebutan akrab yang biasa digunakan penduduk setempat. Perjalanan motor dari pangkalan ojek menuju Pos I memakan waktu sekitar 15 menit, dan di titik inilah petualangan treking yang sesungguhnya dimulai.

Estimasi Waktu dan Medan Perjalanan

Untuk mencapai desa, terdapat tiga pos peristirahatan. Setibanya di Pos I, aku melihat sebuah papan kayu berdiri tegak berisi pesan menyambut dari Desa Waerebo. Rasanya bahagia tak kepalang! Akhirnya kaki aku bisa berpijak di tanah ini, yang artinya impian untuk menjenguk Waerebo segera menjadi kenyataan. ^_^

Memang benar, perjalanan menuju Waerebo menuntut perjuangan fisik. Kami harus mendaki bukit dan menembus hutan lebat melalui jalan setapak yang dikelilingi belantara serta jurang curam. Suasana makin menantang dengan guyuran hujan rintik dan kabut tebal. Bagi yang belum terbiasa masuk hutan, perjalanan yang normalnya 3 jam bisa membengkak menjadi 4 jam. Namun, kicauan merdu burung-burung di sepanjang jalan sangat menenangkan hati.

Ternyata, perjalanan kami memang memakan waktu lebih dari 3 jam karena kami banyak berhenti saat merasa lelah. Kami semua tetap setia menunggu dengan sabar jika ada salah satu anggota rombongan yang butuh istirahat sejenak. Dari perjuangan itu, akhirnya kami tiba di Pos 2, yang menandakan bahwa Pos 3 (pos terakhir) sudah di depan mata.

Tradisi Memukul Kentongan: Tanda Ketibaan di Gerbang Desa

“Badai pasti berlalu,” pepatah itu terus terngiang di benak aku. Setelah melalui lembah dan hutan selama lebih dari 3 jam, kami pun akhirnya tiba di Pos 3. Mengapa aku menyebutnya “badai”? ;-) Sebenarnya itu hanya ungkapan rasa tidak sabaku untuk segera melihat kampung ini.

Begitu sampai di Pos 3, Abang Eman memberikan arahan penting sebelum kami memasuki area rumah adat. Memukul kentongan adalah tradisi wajib bagi setiap pengunjung. Suara kentongan ini menjadi pertanda bagi warga bahwa akan segera ada tamu yang datang berkunjung.

“Selamat sore, Ibu,” suara nyaring itu menyambut ke arah-ku. Seorang wanita setengah baya tampak menyapa dengan ramah melalui jendela kecil di salah satu rumah warga. Senyuman tulusnya seketika menghapus rasa lelahku. Benar dugaanku, masyarakat Waerebo sangat menghormati leluhur dan hidup begitu harmonis dengan alam di sekelilingnya.

Sejarah Waerebo: Jejak Nenek Moyang dari Minangkabau

Masyarakat Waerebo hingga kini masih sangat taat menjalani adat-istiadatnya. Mereka hidup dengan penuh rasa hormat kepada leluhur dan menjaga keharmonisan dengan hutan di sekelilingnya.

Ada hal menarik yang saya pelajari tentang asal-usul mereka. Konon, nenek moyang masyarakat Waerebo yang bernama Empo Maro berasal dari Minangkabau, Sumatra. Alkisah, setelah menempuh perjalanan jauh dan berpindah-pindah dari satu kampung ke kampung lain, Empo Maro akhirnya memutuskan untuk menetap di Waerebo. Beliau menetap di sini hingga menurunkan keturunannya yang terus menjaga desa ini sampai saat ini.

Arsitektur Tradisional Waerebo: Mengenal Mbaru Niang

Waerebo merupakan satu-satunya kampung adat di Manggarai yang masih mempertahankan bentuk rumah tradisional asli yang disebut Mbaru Niang. Secara bahasa, “Mbaru” berarti rumah, dan “Niang” berarti tinggi dan bulat.

Filosofi dan Makna Tujuh Rumah Kerucut

Mbaru Niang memiliki dimensi yang berbeda-beda, tergantung dari jumlah keluarga yang menempatinya. Niang Gendang (rumah utama) ditempati oleh delapan keluarga, sementara enam bangunan lainnya yang disebut Niang Gena masing-masing ditempati oleh enam keluarga.

Ketujuh bangunan Mbaru Niang ini tidak hanya sekadar tempat tinggal. Keberadaannya merupakan pencerminan kepercayaan leluhur untuk menghormati tujuh arah puncak gunung di sekeliling kampung Waerebo. Bagi masyarakat setempat, puncak-puncak gunung tersebut dipercaya sebagai “para pelindung” yang menjaga kemakmuran dan keselamatan seluruh warga kampung.

Menjelajahi Bagian Dalam Mbaru Niang

Masuk ke dalam Mbaru Niang, saya merasa seperti dibawa kembali ke masa lalu. Bangunan ini memiliki pembagian ruang yang sangat teratur:

Tenda (Tingkat I)

Ini adalah lantai paling bawah. Di sinilah pusat kegiatan keluarga, mulai dari ruang berkumpul, area tungku untuk memasak, ruang makan, hingga kamar-kamar tidur yang bisa menampung 6-8 orang.

Lutur

Area tempat kami duduk bersantai. Lutur berfungsi sebagai ruang aktivitas bagi tamu maupun masyarakat setempat untuk berinteraksi.

Tungku atau Hapo: Jantung Kehidupan di Dalam Rumah

Di dalam Mbaru Niang, terdapat sebuah area perapian yang disebut Tungku atau Hapo. Tempat ini merupakan jantung kehidupan bagi setiap keluarga di Waerebo. Di sinilah seluruh kegiatan memasak dilakukan, sekaligus menjadi area hangat bagi keluarga untuk berkumpul dan makan bersama.

 

Upacara Penyambutan oleh Bapak Alexander Ngadus

Ketibaan kami disambut dengan sangat ramah oleh Bapak Alexander Ngadus, Ketua Adat sekaligus Ketua Desa Waerebo. Pertemuan kami berlangsung di depan sebuah tiang yang disebut Tiang Bongkok. Di sinilah biasanya sang Tua Gendang (Ketua Adat) duduk memimpin setiap pertemuan masyarakat.

Sebagai pengunjung, kami diberikan wedangan atau pesan-pesan sakral dari Bapak Alex. Beliau menginformasikan sekilas tentang silsilah dan adat-istiadat yang masih sangat dijaga oleh warga Desa Waerebo. Setelah prosesi pesan atau wedangan ini usai, beliau dengan senang hati mempersilakan bagi siapa saja yang ingin berfoto bersama.

Satu hal yang sangat berkesan bagi saya adalah Tiang Bongkok yang berdiri tepat di belakang Bapak Alex. Tiang ini bukan sekadar kayu penyangga, melainkan titik paling sakral di dalam seluruh bangunan Mbaru Niang.

Keajaiban Tengah Malam: Berburu Milky Way di Waerebo

Salah satu momen yang paling tidak terlupakan adalah suasana tengah malamnya. Jika kamu berkunjung ke sini, cobalah usahakan untuk keluar rumah sekitar pukul 1 malam. Dongakkan kepala ke atas, dan kamu akan disuguhi keindahan Milky Way atau Bima Sakti yang begitu jernih.

Ada tips menarik yang aku dengar dari obrolan antar traveler: bawalah lampu senter. Cobalah arahkan cahaya senter ke langit saat memotret bintang. Teknik ini akan menghasilkan foto yang sangat “aduhai” dan estetik. Jadi, bagi kamu yang gemar fotografi, momen magis ini adalah sesuatu yang jangan sampai terlewatkan saat berada di kampung Waerebo.

Mengenal Sisi Spiritual dan Sosial Waerebo

Compang: Titik Pusat yang Sakral:

Compang-sebuah batu bundar. Di pelataran inilah ketujuh rumah berdiri melingkar. Compang adalah titik paling sakral, tempat pemujaan kepada Tuhan dan leluhur. Saya sempat bersandar di sana, merasakan ketenangan yang sulit dijelaskan kata-kata.

Lelah yang Terbayar dengan Kebahagiaan

Jangan heran melihat wajah letih kami di foto. Perjalanan ini memang berat, tapi rasa lelah dan wajah kusam tidak lagi kami hiraukan. Akhirnya, impian saya menjenguk Waerebo tercapai.

Kehangatan Pagi dan Cerdasnya Anak-Anak Waerebo

Pagi hari di sini sungguh ajaib. Aku kagum melihat anak-anak di Taman Baca yang selalu membawa buku ke mana pun mereka bermain. Yang membuat aku takjub, mereka berbicara dalam Bahasa Indonesia yang sangat baik dan benar, tanpa logat daerah. Kami saling memperkenalkan diri dalam suasana yang sangat harmonis.

 

Kehidupan Sehari-hari: Bertahan di Tengah Keterbatasan Akses

Saya sempat berbincang hangat dengan salah seorang Bapak warga asli yang tinggal di Mbaru Niang. Dari obrolan ini, saya baru menyadari betapa tangguhnya mereka. Berikut sekilas percakapan kami:

Saya: “Bagaimana Pak, kalau mau belanja? Berarti harus setiap hari turun ke bawah dengan jarak tempuh 3-4 jam?”

Bapak: “Kami sudah biasa, Ibu. Bagi kami, untuk turun ke bawah cuma memakan waktu 1,5 jam.”

Saya: “Oh, seberapa sering Bapak berbelanja ke pasar?”

Bapak: “Satu kali dalam seminggu, Ibu. Kami beli beras dan bahan-bahan makanan untuk stok selama satu minggu.”

Saya: “Lalu, bagaimana dengan anak-anak yang harus pergi sekolah, Bapak?”

Bapak: “Desa Waerebo itu ada dua, yaitu satu di atas (Waerebo Atas) dan satunya lagi di bawah (Waerebo Bawah). Nah, anak-anak tinggal di Waerebo Bawah agar dekat dengan sekolah. Setiap hari libur, mereka baru pulang kampung naik ke sini. Ada juga beberapa warga sini yang mengajar di sekolah; mereka juga tinggal di bawah karena tuntutan pekerjaan dan baru pulang ke Waerebo Atas kalau sekolah libur.”

Dari penjelasan beliau, saya mengerti bahwa tidak semua masyarakat Waerebo tinggal di dalam tujuh bangunan Mbaru Niang. Sebagian besar warga kini menetap di Kampung Kombo (Waerebo Bawah), terutama agar lebih mudah mendapatkan akses fasilitas publik seperti sekolah dan puskesmas.

Mata Pencaharian: Antara Kebun Kopi dan Tenun

Pagi hari di Waerebo dimulai dengan kabut yang menyelimuti desa dan udara yang masih terasa sangat dingin. Di balik ketenangan ini, masyarakatnya adalah pekerja keras. Sebagian besar warga memiliki lahan pertanian di Kombo dan Dintor. Karena letaknya yang berjauhan, perjalanan dari Kampung Kombo menuju Waerebo Atas hanya bisa diakses dengan berjalan kaki selama 3-4 jam menelusuri lereng bukit.

Mata pencaharian utama warga di sini adalah berkebun, dengan komoditas unggulan seperti kopi, cengkeh, dan umbi-umbian. Para perempuan Waerebo pun tak kalah sibuk; selain memasak dan mengasuh anak, mereka juga mahir menenun kain khas serta membantu suami bekerja di kebun.

 

Waerebo di Mata Dunia: Penghargaan UNESCO

Berdasarkan catatan kunjungan wisatawan yang didokumentasikan oleh masyarakat setempat, jumlah pengunjung ke Waerebo kian hari kian meningkat. Menariknya, pada awalnya masyarakat sempat kurang menerima adanya penghasilan tambahan dari sektor pariwisata. Namun seiring berjalannya waktu, mereka mulai menyadari dampak positifnya bagi kesejahteraan desa.

Puncaknya, pada 27 Agustus 2012, UNESCO menganugerahi Waerebo penghargaan Award of Excellence dalam ajang UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation. Ini merupakan penghargaan tertinggi dalam bidang pelestarian warisan budaya, yang membuktikan bahwa Waerebo bukan sekadar destinasi cantik, tapi juga harta karun budaya dunia yang diakui secara internasional.

 

Pesan Penting: Mendukung Ekonomi Masyarakat Lokal

Salah satu pesan yang selalu diingat oleh masyarakat adat adalah pentingnya peran wisatawan dalam menjaga keberlangsungan desa:

“Gunakan jasa pemandu lokal dan belilah produk masyarakat lokal. Selain kunjungan Anda akan lebih bernilai, Anda juga turut membantu perekonomian masyarakat setempat.”

Sebagai bentuk dukungan, saya memutuskan untuk membeli sebuah buku tentang Waerebo seharga Rp 100.000. Isinya sangat bermanfaat dan informatif. Sebagian informasi dari buku tersebut aku kutip untuk melengkapi tulisan di blog ini, agar cerita perjalanan aku di Waerebo menjadi lebih akurat. Selain itu, aku juga membeli Kopi Luwak asli Waerebo seharga Rp 100.000 yang merupakan hasil tani warga sendiri.

Bagi kamu yang berencana menjelajahi Waerebo, aku sangat menyarankan untuk menggunakan jasa pemandu lokal agar perjalanan lebih bermakna. Jika butuh rekomendasi, kamu bisa menghubungi Abang Emanuelle Bey di nomor +62(0)82175703678.

Akhir Kata: Pesona yang Tak Terlupakan

Melihat tujuh rumah adat berbentuk kerucut yang berdiri damai dan harmonis dengan alam sekitarnya adalah sebuah keajaiban bagi aku. Akhirnya, impian untuk melihat langsung pesona Waerebo dengan mata kepala sendiri sudah terwujud. Sebuah pengalaman yang akan selalu saya kenang selamanya. ^_^

Daftar Perjalanan Jelajah Flores

Jangan lewatkan cerita lengkap rangkaian perjalanan saya di Flores dari hari pertama hingga terakhir:

 

Terima kasih sudah membaca diary perjalanan aku ke Desa Waerebo Flores. Semoga cerita tentang 7 Rumah Adat Mbaru Niang ini bermanfaat untuk kamu yang sedang merencanakan trip ke NTT.

Media Sosial

 

Facebook

Facebook TDC –Tujuh Rumah Adat Berbentuk Kerucut Milik Desa Waerebo, Flores.

YouTube

7 responses to “Menjenguk Waerebo: Kisah 7 Rumah Adat Mbaru Niang di Flores”

  1. […] Hari 4: Pagi-pagi bersiap-siap berangkat ke Desa Waerebo dan bermalam di rumah penduduk di Kampung Waerebo… […]

  2. bariyah1424 Avatar

    beautifull .. ingin berlibur kesana ..

    1. Elly Avatar

      wisata desa Waerebo sangat patut untuk dikunjungi. So Bariyah, tunggu apa lagi ;-)
      Terimakasih sdh mampir ya;-)

      1.  Avatar
        Anonymous

        tunggu uang untuk bisa nganterin kesitu kak ..

        sama2 …

        1.  Avatar
          Anonymous

          Iya, memang semua perlu dana..hihi.. klo kamu ksana jgn lupa kabari aq ya, ceritain pngalamannya kamu waktu dsana;-)
          Terimkasih sdh mampir…😊👍

      2. bariyah1424 Avatar

        hanya menunggu uang dan keajaiban agar aku bisa mengunjungi tempat itu kak .

        1. Elly Avatar

          Rezeki datangnya tdk d sangka2..😊🙏🏻

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Elly Avatar

About the author