Elly Afriani memegang paspor Indonesia dengan latar gedung KBRI Den Haag, Belanda.

Perpanjang Paspor Indonesia di Belanda: Menjelajah Den Haag dalam 2 Hari

Perpanjang paspor. Kedengarannya seperti urusan administrasi yang membosankan, ya? Aku juga dulu berpikir begitu. Tapi sejak tinggal di Belanda, setiap lima tahun sekali perjalanan ke KBRI Den Haag selalu berubah menjadi cerita baru. Dari menyusuri jalan-jalan bersejarah, menikmati kuliner Indonesia, hingga menemukan sudut kota yang mengingatkanku pada rumah. Di artikel ini, aku ingin mengajakmu melihat Den Haag dari sudut pandang yang berbeda.

Kalau kamu tinggal di Belanda, sedang berlibur, atau suatu hari harus mengurus paspor di KBRI Den Haag, semoga cerita dan tips ini bisa membantumu menikmati kota ini lebih lama. Karena Den Haag bukan hanya tempat mengurus dokumen, tetapi juga kota yang menyimpan banyak jejak Indonesia.

Kenapa Setiap 5 Tahun Aku Selalu Kembali ke Den Haag

Mengurus paspor di KBRI Den Haag

Jujur ya… kalau ditanya “hobi apa?” jawabanku bukan “liburan ke Den Haag” 😅

Alasannya simpel: perpanjang paspor. Lima tahun sekali ritual wajib WNI di Belanda.
Kedutaan Besar Republik Indonesia berada di Den Haag. Jadi mau tidak mau, setiap lima tahun aku pasti kembali ke kota ini.

Kalau dipikir-pikir lucu juga. Orang lain mungkin datang ke Den Haag untuk melihat istana, museum, atau menikmati pantainya. Sementara aku? Datangnya karena paspor. 😄

Tips Sebelum Datang ke KBRI Den Haag

Kalau kamu juga berencana memperpanjang paspor di KBRI Den Haag, ada beberapa hal yang sebaiknya dipersiapkan terlebih dahulu.

  • Pastikan sudah membuat janji temu (appointment) sesuai prosedur yang berlaku.
  • Siapkan seluruh dokumen yang dibutuhkan agar proses berjalan lancar.
  • Datang tepat waktu sesuai jadwal.
  • Kalau memungkinkan, luangkan waktu untuk menikmati Den Haag setelah urusan selesai. Kota ini memiliki banyak tempat menarik yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki dari pusat kota.

Menginap di Noordeinde, Jantung Kota Den Haag

Suasana Kawasan Kerajaan Belanda

Kali ini aku memutuskan tidak buru-buru pulang. “Sudah jauh-jauh ke sini, masa cuma ke KBRI lalu balik?”

Akhirnya aku memesan hotel di kawasan Noordeinde. Dari sinilah petualangan akhir pekanku dimulai.

Noordeinde adalah salah satu kawasan paling elegan di Den Haag. Di ujung jalannya berdiri Paleis Noordeinde, istana kerja Raja Belanda yang hingga kini masih digunakan sebagai kantor resmi raja. Suasana di sekitarnya terasa tenang, dipenuhi bangunan-bangunan bersejarah, butik, galeri seni, dan kafe yang membuat kawasan ini nyaman dijelajahi kapan saja.

Yang membuatku tersenyum, di kota serapi ini ternyata aku masih bisa menemukan warung yang menjual nasi padang. Itulah Den Haag, kota yang diam-diam selalu mengingatkanku pada Indonesia.

Baca Juga, artikel dibawah siapa tau bermanfaat untukmu;

Menyusuri Den Haag dengan Berjalan Kaki

Dari Paleis Noordeinde Menuju Gevangenispoort

Hari pertama aku memilih berjalan kaki tanpa naik tram.

Setelah menikmati suasana kawasan Noordeinde, aku melanjutkan perjalanan menuju Gevangenispoort. Jaraknya tidak terlalu jauh, sehingga aku bisa menikmati pusat kota Den Haag dengan santai sambil melihat bangunan-bangunan tua yang masih terawat dengan baik.

Sepanjang perjalanan, aku melewati jalan-jalan yang dipenuhi toko, kafe, galeri seni, serta gedung-gedung bersejarah. Inilah salah satu alasan aku suka berjalan kaki di Den Haag. Kota ini terasa hidup, tetapi tetap tenang. Hampir di setiap sudutnya ada cerita yang menarik untuk dinikmati.

Tujuanku hari itu hanya satu, yaitu Gevangenispoort.

Nama ini mungkin terdengar sedikit menyeramkan. Dalam bahasa Belanda, Gevangenis berarti penjara, sedangkan Poort berarti gerbang. Dari namanya saja sudah membuatku penasaran seperti apa kisah di balik bangunan tua ini.

Gevangenispoort: Penjara Tua yang Bisu Tapi Bercerita

Mengikuti Tur Museum Gevangenispoort

Keesokan paginya aku berjalan menuju Museum Gevangenispoort. Sebelum tur dimulai, para pengunjung berkumpul di depan pintu masuk. Di sana terdapat sebuah jam kayu besar yang menunjukkan jadwal tur berikutnya beserta pilihan bahasa yang tersedia, yaitu bahasa Belanda dan bahasa Inggris.

Aku memilih mengikuti tur berbahasa Inggris. Selama kurang lebih satu jam, pemandu wisata mengajak kami menyusuri setiap ruangan sambil menceritakan sejarah bangunan yang telah berdiri sejak abad ke-15 ini.

Menurutku, mengikuti tur bersama pemandu jauh lebih menarik daripada berkeliling sendiri. Banyak cerita yang mungkin tidak akan kutemukan hanya dengan membaca papan informasi di dalam museum.

Malam Sebelum Tur: Sulit Tidur karena Membayangkan Penjara Tua

Terus terang, ada satu pengalaman yang sampai sekarang masih kuingat.

Malam sebelum mengikuti tur, aku menginap di easyHotel Den Haag yang letaknya tidak jauh dari Gevangenispoort.
Saat lampu kamar mulai kumatikan, tiba-tiba pikiranku melayang ke bangunan penjara tua yang hanya berjarak beberapa menit berjalan kaki dari hotel.
Aku mulai membayangkan bagaimana suasana tempat itu berabad-abad yang lalu.
Di sana pernah ada orang-orang yang dipenjara, diadili, bahkan disiksa.

Semakin kupikirkan, semakin sulit rasanya memejamkan mata.

Aku bahkan sempat mencari informasi tentang sejarah Gevangenispoort di internet. Ternyata banyak kisah yang membuat bulu kuduk berdiri. Salah satunya tentang Johan dan Cornelis de Witt, dua tokoh penting Belanda yang dibunuh massa pada tahun 1672. Peristiwa tragis itu menjadi salah satu bab paling kelam dalam sejarah Belanda dan masih sering dikaitkan dengan kawasan Gevangenispoort.

Mungkin karena membaca kisah itu, imajinasiku semakin liar.
Aku membayangkan bagaimana suara langkah penjaga, jeritan para tahanan, hingga suasana kota ratusan tahun lalu.
Tentu semua itu hanya bayanganku sendiri. Namun justru pengalaman itulah yang membuat kunjunganku ke museum keesokan harinya terasa jauh lebih berkesan.

Menyaksikan Langsung Sel Tahanan dan Ruang Penyiksaan

Begitu memasuki museum, suasananya langsung berubah.

Udara di dalam terasa lebih dingin. Tembok-tembok batu yang tebal, lorong sempit, dan lantai kayu tua seolah masih menyimpan cerita dari masa lalu.

Pemandu menjelaskan bagaimana para tahanan ditempatkan sesuai status sosial mereka.

Ada sel yang dihuni oleh tahanan penting dengan kondisi yang sedikit lebih baik. Namun ada pula sel kecil yang dihuni banyak orang sekaligus. Aku melihat sendiri salah satu ruangan sempit yang dahulu bisa diisi belasan tahanan. Di sudut ruangan bahkan masih terlihat fasilitas sanitasi yang sangat sederhana.

Kami juga diajak melihat ruang interogasi, ruang sidang, hingga berbagai alat penyiksaan yang pernah digunakan pada masa itu.

Pemandunya bercerita dengan nada tenang. Justru karena disampaikan tanpa dramatisasi, setiap kisah terasa semakin mengena.

Pertemuan Tak Terduga dengan Resepsionis Berdarah Indonesia

Setelah tur selesai, setiap pengunjung diminta mengambil kembali barang-barang yang disimpan di loker. Sebelum memasuki museum, kami memang diberi kunci loker karena tas berukuran besar, makanan, dan minuman tidak diperbolehkan dibawa masuk ke area pameran.

Awalnya aku berniat menitipkan lagi tasku sebentar. Aku ingin keluar mencari makan dulu sebelum melanjutkan perjalanan.

Aku pun bertanya kepada petugas resepsionis apakah kunci loker boleh tetap kubawa sementara.

Ternyata tidak bisa.
Karena aku sudah keluar dari area museum, kunci loker harus dikembalikan.

Saat sedang berbincang itulah, salah seorang resepsionis tiba-tiba bertanya kepadaku,

“Orang Indonesia?”

Aku langsung tersenyum.

Iya.

Obrolan kami pun mengalir begitu saja.

Ternyata ayahnya berasal dari Indonesia dan hingga sekarang masih memegang paspor Indonesia. Sementara dirinya lahir dan besar di Belanda.

Yang membuatku tersenyum, ia juga bercerita bahwa ayahnya setiap lima tahun sekali selalu datang ke KBRI Den Haag untuk memperpanjang paspor.

Aku spontan tertawa.

Lho… sama dong seperti aku.

Lucu rasanya. Dari sebuah museum penjara tua yang penuh kisah sejarah, aku justru bertemu seseorang yang mengingatkanku lagi pada Indonesia.

Kadang perjalanan memang memberi kejutan-kejutan kecil yang tidak pernah kita rencanakan.

Rindu Pulang Kampung: Berburu Kuliner Indonesia di Den Haag

Menikmati Nasi Padang Asli di Den Haag

Oke, cukup dulu cerita sejarahnya. Perut mulai protes.

Nah, inilah salah satu alasan kenapa aku selalu senang mampir ke Den Haag.
Bukan cuma karena ada KBRI, tetapi juga karena pilihan kuliner Indonesianya benar-benar lengkap.

Di banyak kota di Belanda sebenarnya cukup mudah menemukan restoran Indonesia. Menu seperti nasi rames, sate, gado-gado, rendang, atau soto bukan lagi makanan yang sulit dicari.

Namun, kali ini aku sengaja mencari sesuatu yang berbeda.
Aku ingin menikmati nasi Padang yang benar-benar khas, lengkap dengan lauk-pauknya seperti yang biasa kutemui di Indonesia.

Bahkan, di Den Haag aku juga bisa menemukan lontong Medan dan es teler yang rasanya mengobati rasa rindu pada kampung halaman.

Tidak semua restoran Indonesia di Belanda menyediakan menu seperti ini. Justru itulah yang membuatku selalu menyempatkan diri berburu kuliner Nusantara setiap kali berada di Den Haag.

SIAP LIBURAN KE BELANDA?
Mulai rencanakan perjalananmu dari sekarang. Bandingkan harga hotel, tiket pesawat, dan transportasi dengan mudah.

Bertemu Sesama Orang Indonesia di Negeri Orang

Hal lain yang selalu membuatku betah adalah suasananya.

Sering kali yang melayani di restoran juga orang Indonesia. Baru beberapa menit mengobrol, rasanya sudah seperti bertemu teman lama.

“Mbak dari mana?”

“Sudah lama tinggal di Belanda?”

Obrolannya sederhana, tetapi selalu terasa hangat.
Mungkin karena sama-sama merantau, jadi ada rasa akrab yang sulit dijelaskan.
Di negeri orang, bertemu sesama orang Indonesia memang selalu menghadirkan perasaan seperti pulang sebentar ke rumah.

Tips Parkir dan Transportasi di Den Haag

Jangan Langsung Membawa Mobil ke Pusat Kota

Kalau ini berdasarkan pengalamanku sendiri ya. 😄

Dulu aku selalu membawa mobil langsung ke pusat kota Den Haag.
Setelah itu… kapok.

Mencari tempat parkir di pusat kota ternyata tidak semudah yang kubayangkan. Selain harus berputar-putar mencari tempat kosong, tarif parkir di area pusat kota juga cukup mahal.
Kalau parkir di gedung parkir seperti Q-Park, biayanya bisa mencapai sekitar €60 per hari, tergantung lokasi dan lama parkir.

Sejak saat itu aku memilih cara yang jauh lebih praktis.

Memanfaatkan P+R Den Haag Hoornwijk-Ypenburg

Sekarang, setiap kali ke Den Haag, aku lebih memilih memarkir mobil di P+R Den Haag Hoornwijk-Ypenburg.

Alamat yang biasa kugunakan di navigasi: Laan van Hoornwijck 38, 2289 AA Rijswijk (dekat Den Haag/Delft).

Biaya parkirnya jauh lebih ramah di kantong, sekitar €10 per hari.
Setelah itu aku melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi umum menuju pusat kota Den Haag.

Menurutku cara ini jauh lebih santai. Tidak perlu stres mencari parkir, tidak perlu khawatir dengan biaya parkir pusat kota, dan kita bisa menikmati kota dengan berjalan kaki.

Berkeliling Den Haag dengan Transportasi Umum

Dari area P+R, aku biasanya melanjutkan perjalanan menggunakan tram atau bus.

Aku membeli day ticket sekitar €7 sehingga bisa naik transportasi umum beberapa kali dalam sehari tanpa perlu membeli tiket satu per satu.

Menurutku cara ini jauh lebih praktis, apalagi kalau rencananya ingin mengunjungi beberapa tempat wisata sekaligus.
Karena setelah sampai di pusat kota, hampir semua destinasi favorit di Den Haag bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Baca Juga, Cara Naik Transportasi Belanda dengan Kartu OV

Den Haag dan Indonesia: Hubungan yang Tak Pernah Putus

Sambil jalan balik ke hotel, aku mikir… Kenapa ya Den Haag rasanya nggak asing buat orang Indonesia?

Rasanya bukan sekadar jalan-jalan di kota Eropa biasa. Ada kehangatan yang familiar di antara bangunan-bangunan tuanya. Jawabannya sederhana: karena sejarah kita memang dijahit di sini.

Konferensi Meja Bundar

Kalau kamu ingat pelajaran sejarah waktu sekolah, nama kota ini pasti sering lewat. Di sinilah Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949 digelar—tepatnya di gedung bersejarah Ridderzaal.

Ini bukan cuma sekadar rapat biasa di Eropa. Ini adalah titik sejarah paling emosional bagi bangsa kita: momen di mana Belanda akhirnya menyerahkan kedaulatan dan mengakui Indonesia sebagai negara yang merdeka secara penuh. Jalan-jalan di Den Haag rasanya seperti napak tilas perjuangan para pendiri bangsa yang dulu bernegosiasi alot demi masa depan kita.

Mahkamah Internasional

Bukan cuma soal sejarah masa lalu, Den Haag juga punya peran penting dalam diplomasi modern kita. Di kota ini berdiri Peace Palace (Vredespaleis), tempat Mahkamah Internasional (International Court of Justice) berkantor.

Gedungnya megah banget dan sering jadi panggung utama saat Indonesia memperjuangkan hak-hak diplomasi dan mencari keadilan di kancah internasional. Melihat gedung ini secara langsung bikin sadar kalau suara Indonesia di mata hukum dunia memang berkumandang dari kota ini.

Komunitas Indonesia di Den Haag

Tapi koneksi Den Haag dan Indonesia itu bukan cuma soal politik dan gedung-gedung hukum yang kaku. Jiwa dari kota ini justru ada di manusianya.

Den Haag punya komunitas diaspora dan keturunan Indo yang sangat besar dan sudah tinggal turun-temurun. Jalan sebentar saja, kamu bakal gampang sekali nemuin restoran padang, warung makan Jawa, sampai toko kelontong yang jualan bumbu mi instan dan kerupuk. Kalau kamu ke Museum Volkenkunde (yang berada tak jauh di area sekitarnya), kamu bahkan bisa melihat ribuan artefak bersejarah Nusantara yang dirawat di sana. Rasa Indonesianya pekat sekali!

SIAP LIBURAN KE BELANDA?
Mulai rencanakan perjalananmu dari sekarang. Bandingkan harga hotel, tiket pesawat, dan transportasi dengan mudah.

KBRI sebagai rumah kedua WNI di Belanda

Buat puluhan ribu WNI yang sedang adu nasib di Belanda—mulai dari mahasiswa yang lagi kuliah, pekerja profesional, sampai keluarga yang menetap di sini—KBRI Den Haag hadir sebagai rumah kedua.

Kedutaan di sini bukan cuma tempat urus paspor atau berkas birokrasi yang formal. KBRI sering jadi tempat kumpul pas Pesta Rakyat 17 Agustus, ajang silaturahmi pas Idulfitri, atau sekadar tempat melepas kangen sama masakan tanah air. Ada rasa aman dan kehangatan khas Indonesia tiap kali melangkah ke sana.

Jadi wajar kalau tiap aku ke sini, rasanya nggak kayak ke “negara orang” gitu. Ada bagian dari Indonesia yang ketinggalan—dan akan selalu hidup—di kota ini.

Perpanjang Paspor, Pulang Membawa Cerita

Awalnya tujuanku cuma satu: ganti paspor baru. 

Tapi pulangnya aku bawa lebih dari itu. Aku bawa cerita tentang penjara tua, tentang nasi padang di tengah kota raja, tentang kerupuk palembang di rak supermarket.
Den Haag ngajarin aku satu hal: sejarah itu nggak cuma ada di buku. Kadang dia ada di gerbang penjara, di piring nasi padang, di antrian KBRI.

Jadi kalau kamu WNI dan harus ke Den Haag buat urus dokumen, jangan buru-buru pulang. 
Sempetin jalan. Sempetin makan. Sempetin ngerasain. 
Karena siapa tau, di kota ini kamu juga nemu sepotong “rumah”.

FAQ – Seputar Jalan-Jalan dan Urusan di Den Haag

Apakah perpanjang paspor Indonesia di Belanda harus ke KBRI Den Haag?

Ya, betul. KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) untuk Kerajaan Belanda hanya ada satu dan berpusat di kota Den Haag. Jadi, seluruh urusan konsuler dan imigrasi—seperti perpanjang paspor, pembuatan visa, hingga legalisasi dokumen bagi WNI yang tinggal di Belanda—dilakukan di KBRI Den Haag. Jangan lupa buat janji temu (appointment) secara online terlebih dahulu sebelum datang.

Apa saja yang bisa dilakukan setelah mengurus paspor di Den Haag?

Banyak sekali! Karena KBRI berada di kota yang strategis, selesai urusan paspor kamu bisa langsung jalan-jalan santai:

  • Foto-foto di Peace Palace (Vredespaleis): Gedung Mahkamah Internasional yang megah dan ikonik.
  • Mampir ke Binnenhof: Kompleks bangunan parlemen bersejarah di tepi danau Hofvijver.
  • Main ke Pantai Scheveningen: Naik trem sebentar, kamu sudah bisa menikmati angin laut dan pemandangan dermaga De Pier.
  • Wisata Kuliner Nusantara: Menikmati makan siang rijsttafel atau mi ayam khas Indonesia di restoran terdekat.
Apakah banyak restoran Indonesia di Den Haag?

Sangat banyak! Den Haag sering dijuluki sebagai “Ibu Kota Kuliner Indonesia di Eropa”. Kamu bisa dengan mudah menemukan berbagai pilihan kuliner, mulai dari toko kelontong (Toko) yang menjual jajan pasar dan kerupuk, warung makan Jawa/Padang sederhana, sampai restoran fine dining yang menyajikan hidangan rijsttafel khas tempo dulu.

Berapa lama waktu yang ideal untuk menjelajahi Den Haag?

Waktu idealnya adalah 1 hingga 2 hari:

  • 1 Hari (Day Trip): Cukup untuk mengelilingi pusat kota bersejarah, foto di Binnenhof & Peace Palace, makan siang kuliner Indonesia, dan menikmati sore di Pantai Scheveningen.
  • 2 Hari: Sangat pas kalau kamu mau masuk ke museum-museum seni terkenal (seperti Mauritshuis) tanpa terburu-buru dan ingin menikmati suasana malam kota.

Apakah pusat kota Den Haag nyaman dijelajahi dengan berjalan kaki?

Sangat nyaman. Sebagian besar pusat kota Den Haag dirancang ramah pejalan kaki (pedestrian-friendly) dan area belanjanya bebas dari kendaraan bermotor. Jarak antar tempat wisata utama di pusat kota juga relatif dekat. Kalau ingin ke area yang agak jauh seperti Pantai Scheveningen, kamu tinggal naik trem yang bersih dan tepat waktu.

Harga Tiket Masuk Museum Gevangenis

Harga tiket masuk museum penjara bersejarah ini adalah sekitar €17,50 untuk dewasa (anak-anak usia 4–12 tahun sekitar €11,00).

  • Tips Hemat: Kalau kamu punya kartu Museumkaart atau I amsterdam / Holland Pass, kamu bisa masuk secara gratis atau mendapat potongan harga.
    (Catatan: Disarankan memesan tiket secara online terlebih dahulu).

Berangkat dari Belanda untuk menjelajahi dunia sering memberiku cerita baru. Namun kali ini, perjalanan mengurus paspor justru mengingatkanku bahwa kadang ‘rumah’ bisa kutemukan di semangkuk nasi padang, sapaan hangat sesama orang Indonesia, dan sudut-sudut Den Haag yang menyimpan begitu banyak jejak negeri kita.

Sampai ketemu 5 tahun lagi ya, Den Haag 👋

Den Haag dari Sudut Pandang Orang Indonesia

Suasana kota Den Haag Belanda dengan jejak budaya Indonesia dan komunitas orang Indonesia.
Gedung tempat berlangsungnya Konferensi Meja Bundar di Den Haag yang menjadi saksi sejarah pengakuan kedaulatan Indonesia
Kompleks Binnenhof di Den Haag Belanda yang menjadi pusat pemerintahan dan sejarah politik Belanda
Istana Perdamaian atau Vredespaleis di Den Haag Belanda yang menjadi pusat hukum internasional
Ikon garis kotak Baca Semua Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Elly Avatar

About the author