Waktu puasa di Belanda vs Indonesia: Perbandingan yang mengejutkan. Benarkah durasinya bisa beda sampai 6 jam? Simak ceritanya di bawah ini.
Assalamu’alaikum, pembaca setia. Tak terasa kita sudah berada di hampir pertengahan Ramadhan 2026. Jika sebelumnya aku banyak bercerita tentang perjuangan puasa sunnah di musim panas yang ekstrim, kali ini aku ingin berbagi update langsung dari suasana Ramadhan tahun ini yang jatuh di bulan Februari. Ternyata, suasananya sangat berbeda.
Puasa di Belanda tahun 2026 ini rasanya seperti pulang ke Indonesia. Durasi waktunya hampir sama. Tapi jangan lupa, jaket tebal tetap wajib ya kalau mau Tarawih ke masjid. Simak update lengkap pengalaman aku di bawah ini.
Daftar Isi
Pengalaman Pribadi Puasa di Belanda
Puasa di Belanda vs Indonesia (2026)
Alhamdulillah, Ramadhan tahun 2026 ini jatuh pada bulan Februari. Ini adalah berkah tersendiri karena Belanda sedang berada di pengujung musim dingin. Berbeda dengan pengalaman puasa sunnah aku di musim panas yang bisa mencapai 19 jam, tahun ini durasi puasa di Belanda hampir sama dengan di Indonesia—sekitar 13 hingga 14 jam saja. Sahur dan buka puasa waktunya sangat bersahabat, sehingga fisik terasa lebih bugar untuk beraktivitas.
Durasi Puasa di Belanda vs Indonesia (2026)
Di pertengahan Februari ini, waktu Subuh sekitar jam 05:45 dan Maghrib sekitar jam 17:50. Benar-benar mirip waktu di Jakarta atau Medan.
Tantangan Suhu dan Tips Sholat Tarawih
Meskipun durasi puasanya tidak terlalu lama, tantangan utamanya adalah suhu udara. Februari 2026 di Belanda masih cukup dingin (sekitar 2°C – 8°C). Buat teman-teman yang ingin beribadah ke masjid untuk Tarawih atau buka bersama, aku sangat menyarankan untuk tetap memakai baju hangat atau jaket tebal. Angin musim dingin di Belanda tetap terasa menusuk meski matahari terlihat cerah.
Bekerja dan Berpuasa di Perusahaan Belanda
Banyak yang bertanya, “Kak Elly, kalau kerja di perusahaan Belanda gimana?”. Di sini, perusahaan memang tidak memberikan jatah cuti khusus atau pengurangan jam kerja untuk Ramadhan. Namun, mayoritas rekan kerja sangat menghargai profesionalisme kita. Selama tugas selesai dengan baik, puasa bukan halangan.
Tips dari aku: beberapa kawan Muslim biasanya mengambil cuti pribadi (annual leave) di hari-hari terakhir Ramadhan untuk fokus beribadah atau persiapan lebaran, dan itu sangat dimungkinkan secara aturan kantor.
Persiapan Lebaran: Mengobati Rindu Kampung Halaman
Hangatnya Komunitas: Jadwal dari Islamic Relief & Buka Bersama
Meskipun jauh dari keluarga di Indonesia, suasana ukhuwah di sini sangat terasa. Sebagai penderma Islamic Relief Nederland, aku selalu mendapat paket tahunan berisi brosur dan jadwal imsakiyah resmi lewat pos. Ini sangat membantu untuk memantau waktu sholat yang akurat.
Selain itu, masjid-masjid di Belanda (seperti masjid Turki, Maroko, maupun komunitas Indonesia) sangat aktif mengadakan Iftar bersama. Jadi, buat kamu yang sendirian di perantauan, jangan khawatir! Kamu bisa datang ke masjid lokal untuk berbuka bersama dan merasakan kehangatan komunitas Muslim yang beragam di sini.
Namun, pengalaman nyaman tahun ini membuat aku mengenang kembali betapa perjuangan puasa sunnah aku di musim panas tahun lalu. Mari kita intip kembali ceritanya di bawah ini sebagai pengingat syukur kita.
Kuliner Ramadhan di Belanda: Antara Hutspot dan Masakan Rumah
Menu Berbuka yang Ringan dan Sehat
Untuk berbuka puasa, aku biasanya lebih suka memasak hidangan yang ringan. Satu hal yang wajib ada di meja makan aku adalah sayur rebusan.Selalu inget pesan bapakku, kalau puasa harus ada sayur rebusan. Karena aku sangat menyukai ikan basah segar, aku biasanya meluangkan waktu untuk berbelanja ke pasar tradisional atau toko Asia agar mendapatkan kualitas terbaik.
Sebagai pelengkap, aku sering membuat perkedel kentang atau gorengan bakwan sayur. Uniknya, untuk bakwan ini aku sering menggunakan Chinese Groenten (sayuran campur khas Asia) yang mudah ditemukan di supermarket seperti Albert Heijn atau Jumbo. Tak lupa, stok tempe dan tahu selalu tersedia di diepvries (pembeku).
Tips dari aku: potong tempe menjadi beberapa bagian sebelum dibekukan agar kita bisa memasak sesuai porsi tanpa sisa.
Hutspot: Kehangatan Musim Dingin Saat Sahur
Karena Ramadhan 2026 ini jatuh di musim dingin, terkadang aku menyajikan Hutspot, makanan khas Belanda favorit aku. Hutspot terdiri dari rebusan kentang dan wortel yang dihancurkan (mash), lalu disiram saus jamur dan disajikan dengan gehaktbal (bola daging sapi). Ini sangat cocok untuk menghangatkan tubuh.
Namun, sebagai orang Indonesia tulen, untuk urusan sahur aku tetap “setia” pada nasi. Rasanya kalau belum makan nasi dengan lauk telur, tempe goreng, atau ikan, tenaga untuk beraktivitas seharian kurang “nendang”! 😉
Waktu puasa di Belanda vs Indonesia: Perbandingan yang mengejutkan.
Puasa di Indonesia biasanya terasa ringan: bangun sahur sekitar jam 4:30 pagi, dan berbuka sekitar jam 18:00 – 18:30 maghrib. Tapi bagaimana kalau kamu berpuasa di negara seperti Belanda? Baik mau puasa Ramadhan maupun puasa sunnah Senin-Kamis atau puasa sunnah lainnya.Ternyata, durasi puasanya bisa jauh lebih panjang, tergantung musim – Bayangin, Subuh sekitar pukul 3:00-an dan Maghrib baru datang menjelang 10 malam.
Aku masih ingat jelas waktu pertama kali coba puasa di Belanda. Ini puasa yang sunyi, diam-diam, tapi justru terasa sangat dekat dengan diriku sendiri.
Puasa di negeri Kincir Angin, Belanda –saat musim panas, bulan Juni – rasanya bukan sekadar menahan lapar dan haus. Tapi juga menahan diri dari tergoda buka kulkas, ngintip jam terus, dan kadang… menahan rasa ingin menyerah.
Menahan Diri Selama 19 Jam
Di Belanda, matahari biasanya bersinar dari jam 4 pagi sampai hampir jam 10 malam. Bayangin, Subuh sekitar pukul 3:00-an (waktu ini aku biasa manfaatkan dengan sholat Tahajjud) dan Maghrib baru datang menjelang 10 malam. Itu berarti, puasanya bisa 18-19 jam. Bukan hanya itu, setiap hari, menitnya bergeser. Misal, kemarin buka puasa jam 22:00 – hari ini buka puasa jam 22:05 besoknya buka puasa jam 22:07 dst ..dst.. sampai buka puasa jam 23:00-an.
Bukan cuma karena lama. Disini juga suasananya gak mendukung. Gak ada suara azan yang menggetarkan jendela. Gak ada momen kolak pisang, berburukue manisan hangat yang jadi hiburan sore. Semuanya sunyi. Namun disitulah letak ‘manis’nya puasa di perantauan ini.
Tapi setelah matahari turun, dan suara azan Maghrib aku dengar dari aplikasi AthanApp (versi gratis tanpa diserang oleh banyaknya seliwiran iklan), rasanya semua perjuangan hari itu terbayar lunas.
Selalu aku printscreen jika ada artikel-artikel bagus dari AthanApp.
Strategi Bertahan: Mengatur Waktu Istirahat
Untungnya, aku kerja pergi-pagi-pulang-petang. Sampai rumah sekitar jam 7 malam, kemudian mandi, sholat Ashar. Setelah Ashar aku biasanya langsung tidur. Karena capek baru pulang kerja. Dan alarm pun aku setel jam 9 malam. Hingga aku ada waktu 1 jam untuk siap-siap buat bukaan puasa.
Sekarang aku sudah terbiasa dengan waktu yang panjang ini. Alhamdulillah. Aku jadi lebih mengenal diriku, mana yang benar-benar niat.
Kadang aku pikir, mungkin ini salah satu cara Allah mengajarkanku tentang keikhlasan. Tentang bagaimana puasa bisa jadi ruang pribadi antara aku dan-Nya.
Jadi, buat kamu yang juga tinggal jauh dari rumah dan sedang mencoba puasa di tengah hari-hari yang panjang ini: aku ngerti rasanya, aku ngerti capeknya. Tapi aku juga tahu nikmatnya, saat kamu tetap kuat sampai azan berkumandang – meski itu jam 10 malam, dan matahari baru benar-benar gelap pukul 11.
InsyaAllah, diantara puasa yang sunyi dan panjang ini, ada doa-doa yang lebih cepat naik ke langit. Amin yra… .
Ngomong-ngomong tentang waktu puasa di Belanda vs Indonesa, perbedaan waktu yang mengejutkan. Dibawah ini saya ada kasih gambaran lama waktu puasa di Belanda itu seperti apa;
Perbandingan Waktu Puasa: Belanda vs Indonesia
Waktu puasa di Belanda vs Indonesia: Perbandingan yang mengejutkan.
Lama Puasa: Belanda Bisa Sampai 19 Jam, Indonesia Rata-rata 13 Jam
Di Indonesia Sahur: sekitar pukul 4.30 Maghrib: sekitar pukul 18.00 Durasi puasa: sekitar 13,5 jam
Di Belanda (Musim Panas) Sahur: sekitar pukul 3.00 Maghrib: sekitar pukul 22.00 Durasi puasa: hingga 19 jam
Di Belanda (Musim Dingin) Sahur: sekitar pukul 6.30 Maghrib: 16.30 Durasi puasa: hanya 10 jam
Mengapa Bisa Beda Jauh?
Perbedaan ini terjadi karena posisi matahari di berbagai belahan bumi berubah sepanjang tahun. Di Belanda (lintang utara), saat musim panas, matahari terbit lebih awal dan terbenam lebih lambat — siang jadi lebih panjang. Sebaliknya, saat musim dingin, malam jadi lebih panjang.
Indonesia yang berada di garis khatulistiwa hanya mengalami sedikit variasi: durasi siang dan malam hampir seimbang sepanjang tahun.
Tantangan Puasa di Belanda
Berpuasa 18–19 jam tentu bukan hal mudah, apalagi untuk yang baru pertama kali. Tantangan yang sering dirasakan:
Waktu sahur sangat pagi, bahkan sebelum jam 3
Harus menahan lapar & haus lebih dari 17 jam
Aktivitas berjalan normal (kerja, kuliah, dll)
Cuaca kering dan udara dingin/tidak lembap
Namun, karena cuaca lebih sejuk dibanding Indonesia, rasa haus bisa sedikit lebih mudah dikendalikan.
Persiapan Lebaran: Mengobati Rindu Kampung Halaman
Malam Takbiran yang Sunyi di Perantauan
Suasana malam lebaran di Belanda memang tidak seramai di Indonesia dengan bedug takbir yang bersahutan. Kesunyian ini terkadang membuat aku rindu kampung halaman hingga meneteskan air mata. Untuk mengobatinya, aku biasanya menghidupkan rekaman takbiran lewat YouTube sepanjang malam agar suasana kemenangan tetap terasa di dalam rumah.
Menu Lebaran Khas Sumatera Utara
Sebagai orang Medan (mantan Siantar), menu Lebaran aku haruslah otentik. Di hari terakhir Ramadhan, dapur aku akan dipenuhi aroma rempah. Aku memasak Mie Gomak (mie lidi), gulai sayur nangka, rendang sapi, perkedel kentang, sambal telur bulat, hingga tauco udang basah. Inilah ritual tahunan aku untuk menghadirkan cita rasa Sumatera Utara di tanah Belanda.
Sholat Idul Fitri di Kota Nijmegen
Pagi-pagi sekali, sekitar pukul 06:30, aku sudah harus berangkat menuju Mosque Abi Bakr beralamat di Pastoor Zegersstraat 75, 6542 VN Nijmegen, Telefon 024 378 0817. Ini sebuah masjid komunitas Turki di kota Nijmegen. Jaraknya sekitar 20 menit berkendara dari rumah. Aku sengaja berangkat lebih awal untuk memastikan mendapat tempat parkir, karena antusiasme umat Muslim untuk sholat Ied di sini sangat luar biasa dan masjid cepat sekali penuh.
Tips Menjalani Puasa Panjang di Belanda
Kalau kamu pelajar, traveler, atau ekspat Muslim di Belanda, ini beberapa tips yang bisa bantu: Siapkan sahur malam sebelumnya (persiapan makan atau makanan instan sehat) Gunakan aplikasi waktu sholat dan puasa agar tidak salah jadwal Tetap jaga hidrasi antara buka dan sahur, minum 1-2 liter air Beristirahat cukup Gabung komunitas muslim lokal – banyak masjid buka untuk iftar dan tarawih.
Renungan: Lebih Panjang. Lebih Menantang. Tapi juga Lebih Mendalam
Walau lebih panjang, puasa di Belanda seringkali membuat orang lebih fokus dan spiritual. Tidak ada hiruk pikuk, tidak banyak godaan kuliner, dan justru lebih tenang. Ramadan atau mau puasa sunah Senin-Kamis di luar negeri mengajarkan kesederhanaan dan keteguhan niat. Hikmah ini yang saya banyak ambil. Alhamdulillah.
Jadi, meskipun durasi puasa di Belanda bisa hingga 6 jam lebih lama dari Indonesia, pengalaman ini membuka perspektif baru soal makna puasa, baik puasa Ramadhan maupun puasa Senin-Kamis atau puasa sunnah lainnya. Perbedaan waktu puasa ini bukan hanya soal jam, tapi juga tentang bagaimana kita mengelola waktu, niat, dan energi selama bulan suci.
Cuaca di Belanda: Kunci Kenyamanan Selama Ramadhan
Saat berlibur atau menjalani puasa di Belanda, satu hal yang harus selalu disiapkan adalah ketidakpastian cuaca. Belanda memiliki iklim maritim yang sangat dinamis. Langit bisa saja cerah saat ini, namun menit berikutnya gerimis turun tiba-tiba.
Saran terbaik dari saya sebagai Tour Leader: jangan pernah percaya sepenuhnya pada satu ramalan saja. Selalu bawa jaket atau payung kecil di tas kamu. Ini adalah cara sederhana agar perjalanan atau ibadah kamu di masjid tetap nyaman tanpa drama. Kondisi terbaru terkait cuaca bisa dipantau melalui Ramalan cuaca di Belanda hari ini.
Bagaimana dengan Ramadhan Kamu? Kalau kamu tinggal di Belanda dan butuh info seputar Ramadan, masjid, atau komunitas Indonesia, kamu bisa hubungi aku lewat halaman Kontak. Aku senang berbagi pengalaman dan membantu sesama perantau.
Oya, bagaimana dengan Ramadhan kamu tahun 2026 ini? Apakah kamu juga merasakan kemudahan yang sama karena jatuh di bulan Februari, atau punya tantangan tersendiri di lokasi tempatmu tinggal? Yuk, tuliskan ceritamu di kolom komentar ya, insyaAllah kita saling mendoakan agar istiqomah sampai hari kemenangan nanti.
Hai👋 aku Elly, Penulis di balik blog ini. Berbekal 20+ tahun hidup di Belanda, aku adalah Belanda-Specialist yang paham betul seluk-beluk hingga blusukan di Negeri Kincir Angin. Aku siap membantumu menikmati perjalanan autentik tanpa drama. Selain menulis, aku aktif sebagai tour leader di Belanda. Yuk, kenalan lebih jauh atau tanya-tanya seputar rencana liburanmu di Negeri Kincir Angin.
✍️ Sudah 20 tahun saya menetap di Belanda dan sejak 2012 mulai menulis di ellyafriani.blog sebagai Dutch Specialist. Di sini, saya berbagi cerita seru keseharian di Belanda, panduan jalan-jalan halal, dan catatan LIFE & HALAL TRAVEL DIARIES saya menjelajahi dunia.
Leave a Reply