REALITA & PANDUAN HIDUP DI BELANDA VERSI ORANG INDONESIA

Cerita nyata tentang hidup sebagai perempuan Indonesia di Belanda, panduan perjalanan, dan pengalaman menjelajah dunia dari negeri kincir angin.

Elly Afriani mengenang musim dingin pertama di Belanda tahun 2006 sebagai orang Indonesia

Musim Dingin Pertamaku di Belanda Tahun 2006: Ini 5 Kejutan Terbesar sebagai Orang Indonesia

Aku masih ingat betul sensasi dingin pertama kali menyentuh kulitku saat tiba di Belanda pada akhir Desember 2006. Saat itu, aku belum tahu bahwa “dingin” di Belanda bukan hanya soal suhu, tetapi juga soal angin, kelembapan, hari yang cepat gelap, dan cara hidup yang berubah total.

Artikel ini berbagi pengalaman pribadi menghadapi musim dingin pertama di Belanda sebagai orang Indonesia, lengkap dengan kejutan budaya, cuaca, dan kehidupan sehari-hari.

Musim dingin pertama di Belanda adalah pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan. Aku tiba di akhir Desember 2006, tepat ketika udara sudah sangat dingin dan hari mulai terasa sangat pendek. Sebagai orang Indonesia yang terbiasa dengan cuaca tropis, aku sama sekali belum paham bagaimana seharusnya berpakaian saat musim dingin.

Dulu, aku mengira cukup memakai jaket tebal. Ternyata tidak sesederhana itu. Dingin di Belanda bisa terasa masuk sampai ke tulang, apalagi jika angin kencang bertiup dari arah laut. Aku ingat betul bagaimana aku sempat memakai banyak lapisan pakaian, bahkan di dalam rumah yang sebenarnya sudah hangat.

Kini, setelah bertahun-tahun tinggal di Belanda, aku bisa tertawa melihat kebiasaan-kebiasaan anehku pada musim dingin pertama itu. Namun saat itu, semua terasa sangat nyata dan kadang membuatku kewalahan. Artikel ini adalah kisah pribadiku tentang lima kejutan terbesar saat pertama kali menghadapi musim dingin di Belanda.

1. Aku Memakai 8 Lapis Legging dan Sarung Tangan di Dalam Rumah

Kejutan pertama adalah aku belum paham konsep berpakaian musim dingin. Saat itu, aku pikir semakin banyak lapisan, semakin hangat. Jadi, aku memakai legging sampai sekitar delapan lapis. Bayangkan saja betapa sempit dan gerahnya jika aku memikirkannya sekarang.

Aku juga memakai sarung tangan di dalam rumah, padahal suhu di dalam ruangan sekitar 24 derajat Celsius. Saat mengetik di komputer, tanganku tetap terasa dingin, jadi sarung tangan terasa seperti kebutuhan, bukan pilihan.

Teman dan kerabat yang melihatku pasti langsung tertawa. Mereka heran melihat seseorang memakai sarung tangan di dalam rumah yang sudah hangat, apalagi memakai legging sampai delapan lapis. Namun bagi aku saat itu, itu adalah cara bertahan menghadapi musim dingin pertama.

Saat bekerja, aku bahkan memakai banyak lapisan baju dalam atau “majong” seperti itu. Sekarang aku sudah tahu bahwa kuncinya bukan memakai banyak lapisan, tetapi memilih baju yang tepat. Baju termal, jaket tahan angin, dan aksesori seperti syal, sarung tangan, serta topi jauh lebih efektif.

Pelajaran yang Kudapat

Sekarang, untuk suhu sekitar minus dua derajat, aku cukup memakai satu set baju termal, atasan hangat, dan jaket musim dingin yang baik. Ternyata berpakaian musim dingin bukan soal jumlah lapisan, melainkan soal material dan perlindungan dari angin serta kelembapan.

Namun, selain dingin yang terasa menusuk, ada juga momen yang membuatku terkesan: pagi-pagi, kabut di Belanda bisa sangat tebal. Kadang pemandangan di sekitar pelabuhan tampak samar, seperti pada foto-foto di bawah ini. Foto ini kuambil saat menemani tamu Indoholland Tours di tahun-tahun terakhir, saat kami menjelajahi kawasan pelabuhan bersejarah di Enkhuizen dan Hoorn.

2. Sore Sudah Gelap Padahal Baru Jam 5

Kejutan kedua adalah betapa cepatnya hari menjadi gelap. Saat itu, aku sangat terkejut karena sekitar pukul lima sore, langit sudah mulai gelap. Bagi orang Indonesia, ini terasa sangat aneh karena di Indonesia hari relatif sama panjang sepanjang tahun.

Aku sempat bercanda, “Kalau puasa di Belanda, bukanya cepat sekali ya.” Sebaliknya, saat musim panas, siang bisa terasa sangat panjang dan matahari baru terbenam menjelang malam.

Baca Juga; Puasa di Belanda 2026: Pengalaman Pribadi & Perbandingan dengan Indonesia

Musim dingin membuat hari terasa lebih pendek. Pada bulan Desember, matahari di Belanda memang terbit lebih siang dan terbenam lebih awal, sehingga jam terang hanya sekitar delapan jam lebih di sebagian wilayah.

Dampaknya bagi Orang Indonesia

Bagiku, perubahan ini memengaruhi suasana hati. Badan terasa lebih cepat lelah, dan malam terasa lebih panjang. Lama-lama aku belajar menyesuaikan diri: menyalakan lampu hangat di rumah, jalan-jalan saat masih terang, dan tetap aktif meskipun cuaca tidak mendukung.

BUTUH BANTUAN MENYIAPKAN TRIP KE BELANDA?
Temukan kebutuhan perjalananmu dalam satu tempat: hotel, tiket, transportasi, dan aktivitas wisata terbaik.

3. Budaya Gezellig yang Membuat Dingin Terasa Hangat

Kejutan ketiga adalah budaya gezellig. Kata ini sulit diterjemahkan langsung ke bahasa Indonesia. Kira-kira artinya suasana yang nyaman, hangat, akrab, dan menyenangkan.

Di musim dingin, orang Belanda sangat menikmati momen gezellig. Mereka suka minum teh atau kopi hangat, makan kue dan biskuit, duduk bersama keluarga, serta menyalakan lilin di rumah. Suasana ini membuat musim dingin tidak terasa menyedihkan, melainkan justru hangat secara emosional.

Aku mulai memahami bahwa musim dingin di Belanda bukan hanya tentang bertahan dari dingin. Ada juga sisi yang romantis dan menyenangkan, terutama saat Desember menjelang Natal.

Lampu Natal di Mana-mana

Pada bulan Desember, jalanan, etalase toko, dan teras rumah mulai dihiasi lampu Natal. Suasananya sangat berbeda dengan Indonesia. Meskipun di luar gelap dan dingin, suasana di dalam rumah dan di kota terasa hangat karena dekorasi serta cahaya lampu.

Pada bulan Desember, jalanan, etalase toko, dan teras rumah mulai dihiasi lampu Natal. Suasananya sangat berbeda dengan Indonesia. Meskipun di luar gelap dan dingin, suasana di dalam rumah dan di kota terasa hangat karena dekorasi serta cahaya lampu.

Di bulan Desember, banyak kota di Belanda juga menyelenggarakan pasar Natal atau kerstmarkt. Di sana, pengunjung bisa menemukan kios-kios kecil yang menjual makanan hangat, minuman, dekorasi Natal, hingga hadiah kecil. Salah satu minuman yang paling khas adalah glühwein, yaitu minuman anggur hangat beraroma rempah. Suasana pasar Natal seperti inilah yang membuat musim dingin terasa lebih hidup dan menyenangkan.

Foto-foto di atas ini kuambil saat berkunjung ke pasar Natal, ketika lampu-lampu, dekorasi, dan suasana hangat menyambut pengunjung di tengah udara dingin.

Baca Juga; Maastricht: Destinasi Liburan Musim Dingin yang Menakjubkan di Belanda

4. Sepeda Tetap Menjadi Andalan di Musim Dingin

Kejutan keempat adalah melihat orang Belanda tetap bersepeda meskipun cuaca dingin, berangin, atau hujan. Bagiku ini sangat mengejutkan pada awalnya. Aku pikir musim dingin adalah waktu untuk mengurangi aktivitas di luar rumah.

Ternyata tidak. Sepeda tetap menjadi alat transportasi utama. Pesepeda tetap berangkat kerja, berbelanja, dan mengantar anak sekolah. Jika angin datang dari depan, mereka harus mengayuh dengan kuat. Jika hujan turun, mereka memakai jas hujan dan melanjutkan perjalanan.

Baca Juga; Kisah Hooibaal: Jerami di Belanda untuk Musim Dingin

Belajar Menghargai Sepeda

Dari situ aku belajar bahwa kehidupan di Belanda tidak berhenti karena cuaca. Orang di sini menyesuaikan diri dengan cuaca, bukan menghindarinya. Mereka memakai pakaian yang tepat, melindungi tangan dan kepala, lalu tetap beraktivitas seperti biasa.

5. Musim Dingin Mengubah Caraku Melihat Belanda

Kejutan kelima adalah aku akhirnya menyukai musim dingin. Awalnya, aku hanya merasa kedinginan dan ingin segera masuk ke dalam rumah. Namun seiring waktu, aku mulai melihat sisi lain dari musim dingin.

Ada suasana tenang ketika salju turun, ada kehangatan saat minum teh bersama keluarga, dan ada keindahan lampu-lampu Natal di jalanan. Musim dingin membuatku lebih menghargai momen kecil: selimut yang hangat, cokelat panas, dan obrolan santai di rumah.

Musim dingin pertamaku mengajarkan bahwa hidup di negara baru memang butuh penyesuaian. Ada rasa kaget, ada rasa kewalahan, tetapi juga ada pembelajaran yang membuatku semakin mencintai Belanda.

SIAP LIBURAN KE BELANDA?
Mulai rencanakan perjalananmu dari sekarang. Bandingkan harga hotel, tiket pesawat, dan transportasi dengan mudah.

FAQ – Musim Dingin Pertamaku di Belanda

Apakah musim dingin di Belanda sangat dingin untuk orang Indonesia?

Ya, terutama bagi orang yang baru datang dari iklim tropis. Dingin di Belanda sering terasa lembap dan berangin, sehingga terasa lebih menusuk dibanding suhu yang tertera pada termometer.

Apa yang harus disiapkan untuk musim dingin pertama di Belanda?

Siapkan jaket tahan angin dan hujan, baju termal, syal, sarung tangan, topi, kaus kaki tebal, serta sepatu kedap air. Gunakan pakaian berlapis, tetapi jangan berlebihan.

Apakah salju selalu turun di Belanda saat musim dingin?

Tidak selalu. Salju bisa turun, tetapi tidak setiap hari dan tidak selalu menumpuk. Yang lebih sering dialami adalah hujan, angin kencang, langit mendung, dan suhu rendah.

Apa arti gezellig dalam budaya Belanda?

Gezellig adalah suasana nyaman, hangat, dan menyenangkan, biasanya saat berkumpul bersama keluarga atau teman. Pada musim dingin, budaya ini sering muncul melalui teh hangat, kue, lilin, dan lampu Natal.

Pernah mengalami musim dingin pertama di Belanda juga? Bagikan pengalamanmu di kolom komentar. Jika kamu sedang bersiap pindah atau tinggal di Belanda, baca juga panduan Hidup di Belanda dan artikel Menyambut Musim Dingin di Belanda dengan Tradisi Khas untuk persiapan yang lebih lengkap.

POSTINGAN TERKAIT

Orang menyapu timbunan es di depan rumah saat musim dingin di Belanda
Pemandangan musim gugur di Belanda dengan langit mendung menjelang musim dingin
Desa Bourtange di Belanda tertutup salju tebal saat badai salju ekstrem di musim dingin
Suasana hangat tradisi musim dingin di Belanda dengan teh, lilin, dan suasana gezellig
Ikon garis kotak Baca Semua Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Elly Avatar

About the author