CATATAN HIDUP & PERJALANAN DI BELANDA

Di Blog ini, aku berbagi cerita tentang kehidupan sebagai Perempuan Indonesia di negeri orang, perjalananku dari Belanda ke berbagai penjuru dunia, serta pengalaman yang aku temui sepanjang perjalanan.

solo traveling ke Turki Keyword pendukung: itinerary Turki 5 hari, wisata Istanbul, pengalaman sholat di masjid Suleymaniye, Bosphorus cruise, tempat wisata Turki terkenal

Solo Traveling ke Turki: 5 Hari Menyusuri Keindahan Istanbul dan Kedamaian di Masjid Suleymaniye

Posted by

·

,

Awal Perjalanan: Dari Schiphol ke Kota Seribu Minaret

Turki adalah negara yang terletak di persimpangan benua Asia dan Eropa.

Perjalanan solo ini dimulai dari Bandara Schiphol, Amsterdam—bandara yang sudah menjadi titik awal petualanganku ke berbagai penjuru dunia. Ada sensasi yang khas saat berjalan sendiri menuju boarding gate, membawa koper kecil dan semangat besar. Dari Amsterdam, aku terbang langsung ke Istanbul dengan durasi sekitar 3,5 jam.

Begitu mendarat, aroma rempah-rempah dan semilir angin musim semi langsung menyambutku—seakan Turki tahu aku datang dengan hati terbuka.

 

Transportasi Pribadi dari Bandara: Vito Besar, Penumpangnya Cuma Aku!

Setelah mendarat di Istanbul, aku sudah memesan jauh-jauh hari transportasi dari bandara ke hotel melalui Booking.com yang membuat pengalaman ini begitu berkesan adalah—aku satu-satunya penumpang! Bayangkan, sejenis Mercedes Vito yang biasanya muat untuk 6-8 orang, kali ini hanya mengantar aku seorang diri. Rasanya seperti tamu VIP yang dijemput khusus.

Jika tidak ingin repot mencari transportasi setibanya di bandara, saya biasanya memesan transfer kendaraan terlebih dahulu sebelum keberangkatan agar perjalanan terasa lebih tenang.

Memesan transfer kendaraan terlebih dahulu
Transportasi yang aku biasanya pakai, pesan lewat Booking.com

Perjalanan dari bandara ke Hotel Centrum Istanbul memakan waktu sekitar 45 menit, melintasi jalanan kota yang mulai ramai menjelang sore. Sopirnya ramah, karena beliau gak bisa bahasa Inggris, maka komunikasi kami lewat google translate yang suaranya terdengar lewat loadspearker, sehingga aku bisa dengar suara pak sopir meski duduk berjauhan. Seru habis 😁 Interior dalam mobil dihiasi lampu kerlap-kerlip, bersih dan nyaman. Aku pun bisa menikmati pemandangan Istanbul dari balik jendela besar Vito tanpa gangguan. Ini jadi momen yang sempurna dari suasana bandara ke ketenangan hotel. Ternyata kota Istanbul juga kota macet, sehingga perjalanan memakan waktu dari biasanya, begitu kata pak sopir. 

 

Menyusuri Ikon Bersejarah Istanbul

Hari-hariku di Istanbul dipenuhi dengan kunjungan ke ikon-ikon sejarah dunia. Blue Mosque yang megah, Hagia Sophia yang menyimpan kisah lintas agama dan zaman, serta Topkapi Palace yang membawa imajinasi ke masa kejayaan Kesultanan Ottoman. Semua tempat ini bisa kutempuh dengan berjalan kaki dari hotel yang sengaja kupilih di pusat kota.

Melakukan perjalanan solo ke Turki selama 5 hari. Tanpa teman perjalanan, aku justru menemukan kebebasan yang luar biasa—waktu sepenuhnya milikku, dan setiap sudut kota bisa kunikmati dengan ritme yang aku pilih sendiri.

Sejarah singkat Blue Mosque, Hagia Sophia dan Topkapi Palace, cerita-cerita dibawah ini aku ambil dari sumber online; yang aku akan bisa baca-baca kembali di kemudian hari. 

Jika ingin menghemat waktu selama di Istanbul, ada banyak tiket wisata dan tur yang bisa dipesan secara online sebelum keberangkatan.

Tiket wisata dan tur yang bisa dipesan secara online
Cari tur online tempat lain, sebagai alternatif

Blue Mosque (Masjid Biru)

Blue Mosque atau Masjid Sultan Ahmed dibangun antara tahun 1609–1616 oleh Sultan Ahmed I. Ia ingin membuat masjid yang bisa menyaingi keindahan Hagia Sophia yang ada di seberangnya. Masjid ini terkenal karena: memiliki 6 menara, jumlah yang tidak biasa saat itu. Mesjid dihiasi lebih dari 20.000 ubin biru Iznik di bagian dalam, itulah asal nama “Blue Mosque”. Masjid ini masih aktif digunakan untuk ibadah dan juga terbuka untuk wisatawan.

Hagia Sophia

Hagia Sophia awalnya adalah gereja Kristen Ortodoks yang dibangun pada tahun 537 M oleh Kaisar Bizantium Justinian I. Bangunannya sangat megah dan pernah menjadi gereja terbesar di dunia selama hampir 1.000 tahun. Tahun 1453, setelah penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Mehmed II, Hagia Sophia diubah menjadi masjid. Kemudian diubah menjadi museum oleh pemerintah Turki modern. Kini statusnya dikembalikan menjadi masjid aktif. Bangunan ini mencerminkan perpaduan budaya Kristen dan Islam, dan menjadi simbol sejarah Istanbul yang kaya.

Dress-code masuk ke dalam Blue Mosque dan Hagia Sophia

Sebelum masuk ke massjid-masjid ini disarankan pakai pakaian sopan, panjang dibawah lutut dan kepala ditutup. Di sekitar ada banya toko-toko yang menjual sjal tudung penutup kepala. Tapi, toko disekitar tidak menerima kartu-debit. Jadi usahakan bawa uang tunai Lira (mata uang Turki). Selain itu mereka terima mata uang EUR, yang kebetulan waktu itu aku beli kerudung motif “panorama Turki” seharga EUR 10,-

Hagia Sophia awalnya adalah gereja Kristen Ortodoks

Topkapi Palace

Sekilas Sejarah Topkapi Palace: Istana Para Sultan Ottoman.
Saat aku berkunjung ke sana, suasananya sangat ramai. Pengunjung berjubel di setiap sudut, membuatku sulit menikmati setiap ruangan dengan tenang. Tapi tetap saja, aura sejarahnya terasa kuat—seolah aku sedang melangkah di lorong waktu, menyaksikan jejak para sultan yang dulu memimpin dunia dari tempat in

Sejarah Topkapi Palace dibawah ini aku kutip dari sumber online; yang aku akan bisa baca-baca kembali tentang tempat yang aku pernah kunjungi. 

Topkapi Palace adalah istana utama Kesultanan Ottoman selama hampir 400 tahun, sejak dibangun oleh Sultan Mehmed II pada tahun 1459, tak lama setelah ia menaklukkan Konstantinopel (sekarang Istanbul). Istana ini dulunya menjadi pusat pemerintahan dan tempat tinggal para sultan, lengkap dengan ruang rapat kenegaraan, dapur kerajaan, dan harem yang misterius.

Bangunannya terdiri dari empat halaman besar dan banyak paviliun kecil, dengan gaya arsitektur campuran Ottoman, Islam, dan sedikit pengaruh Eropa. Di dalamnya tersimpan berbagai harta karun kerajaan.

Sejak tahun 1924, setelah berdirinya Republik Turki, Topkapi Palace diubah menjadi museum nasional dan kini menjadi salah satu destinasi wisata paling populer di Istanbul.

Kedamaian di Masjid Suleymaniye

Di antara ramainya kawasan wisata Istanbul, Masjid Suleymaniye menghadirkan suasana yang jauh lebih tenang. Masjid yang dibangun pada abad ke-16 oleh arsitek legendaris Mimar Sinan ini berdiri megah di atas perbukitan Istanbul dan menawarkan pemandangan indah ke arah Selat Bosphorus. Bagi saya, inilah salah satu tempat yang paling membekas selama perjalanan ke Turki. Tidak hanya karena keindahan arsitekturnya, tetapi juga karena suasana damai yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Duduk sejenak di halaman masjid sambil menikmati semilir angin membuat perjalanan ini terasa lebih bermakna.

Momen paling menyentuh dalam perjalanan ini adalah ketika aku sholat Ashar dan Maghrib di Masjid Suleymaniye. Terletak di atas bukit, masjid ini menawarkan panorama Istanbul yang luar biasa indah. Tidak terlalu ramai turis, suasananya teduh dan menenangkan hati. Rasanya seperti menemukan ruang spiritual di tengah hiruk-pikuk kota.

Menikmati Keindahan Bosphorus Cruise

Istanbul dari Perspektif Laut

Bosphorus Cruise menjadi salah satu aktivitas yang paling saya rekomendasikan bagi wisatawan yang baru pertama kali datang ke Istanbul. Dari atas kapal, kita bisa melihat perpaduan unik antara sisi Eropa dan Asia yang dipisahkan oleh Selat Bosphorus. Deretan masjid, istana, rumah-rumah tua, hingga jembatan megah terlihat begitu berbeda ketika dilihat dari laut. Pengalaman ini memberi sudut pandang lain tentang Istanbul yang tidak bisa didapat hanya dengan berjalan kaki di pusat kota.

Kuliner dan Belanja di Istanbul

Bazar Istanbul dan Ikan Segar yang Menggoda

Salah satu hal yang membuat aku suka kota Istanbul adalah bazarnya. Kota terasa hidup berwarna-warni dan penuh aroma. Dari Grand Bazaar hingga Spice Bazaar yang menggoda indera penciuman, setiap sudut kota menawarkan pengalaman belanja yang unik. Di sini aku bisa menemukan segala hal—dari rempah-rempah eksotis, kerajinan tangan, tekstil Turki, hingga perhiasan antik.

Tips Makan Malam Hemat di Istanbul

Salah satu hal yang saya pelajari selama solo traveling di Istanbul adalah jangan takut berjalan sedikit menjauh dari area wisata utama. Restoran yang berada beberapa blok dari pusat keramaian sering kali menawarkan menu yang sama dengan harga yang jauh lebih bersahabat. Selain itu, suasananya juga terasa lebih lokal karena banyak dikunjungi warga setempat.

Tips dari aku: jangan cuma belanja—cicipi juga ikan segar Istanbul yang terkenal! Waktu itu aku makan ikan di pelabuhan setelah turun dari tur Bosphorus Cruise. Aku sangat menikmati balık ekmek (roti isi ikan panggang) yang dijual dari kapal-kapal kecil di tepi dermaga. Harganya? Super terjangkau! Sekitar 60–100 lira Turki (setara dengan €2–€3) untuk satu porsi dengan sedikit daun salada dan ikan panggang.

 

Pengalaman Menginap di Hotel Centrum Istanbul: Strategis, Nyaman, dan Dekat Segalanya

Lokasi hotel menjadi salah satu faktor penting saat berkunjung ke Istanbul. Menginap di area Sultanahmet atau Sirkeci memudahkan wisatawan untuk menjangkau berbagai tempat wisata utama dengan berjalan kaki maupun menggunakan transportasi umum. Bagi solo traveler, lokasi strategis juga membantu menghemat waktu dan biaya transportasi selama liburan.

Selama 5 hari di Istanbul, aku memilih menginap di Hotel Centrum Istanbul, yang terletak di kawasan Sirkeci, hanya beberapa menit jalan kaki dari Hagia Sophia, Topkapi Palace, dan Blue Mosque. Lokasinya benar-benar ideal untuk wisatawan yang ingin menjelajah kota dengan berjalan kaki. Hotel ini aku temukan lewat Booking.com, dan ternyata lokasinya benar-benar dekat dengan Hagia Sophia dan Topkapi Palace—persis seperti yang dijanjikan di deskripsi.

Kamarku dilengkapi dengan AC, TV satelit, dan Wi-Fi gratis. Setiap pagi aku menikmati sarapan di hotel yang harga sudah termasuk kamar, sambil aku memandangi panorama kota tua Istanbul—momen yang sangat menyenangkan untuk memulai hari.

Kalau kamu mencari hotel yang lokasinya super strategis, dekat tempat wisata utama, dan punya fasilitas lengkap, Hotel Centrum Istanbul bisa jadi pilihan yang tepat.

Tips Makan Malam Hemat di Istanbul: Keluar Sedikit dari Pusat, Harga Bisa Setengahnya!

Kalau kamu sedang traveling ke Istanbul dan ingin menikmati makan malam yang enak tanpa menguras dompet, jangan terpaku di pusat kota. Di area-area turis itu, harga makan malam bisa mencapai €25 atau lebih—hampir sama seperti makan malam di Belanda!

Tapi ada trik hemat yang bisa kamu coba: cari restoran di luar pusat kota, seperti di sekitar bagian dalam, atau kawasan masjid Suleymaniye. Di sana, kamu bisa menemukan restoran lokal yang menyajikan makanan khas Turki dengan harga setengah dari harga turis, bahkan kadang hanya €8–€12 per orang untuk makan lengkap!

Tips Solo Traveling ke Turki

Berdasarkan pengalaman saya, solo traveling ke Turki cukup nyaman dilakukan bahkan bagi wisatawan yang pertama kali berkunjung. Namun ada beberapa hal yang sebaiknya dipersiapkan sejak awal, seperti koneksi internet, uang tunai secukupnya, kartu transportasi umum, serta aplikasi peta digital. Dengan persiapan yang baik, perjalanan akan terasa jauh lebih santai dan menyenangkan.

Hal yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Berangkat

  • Pilih hotel di pusat kota agar mudah menjangkau tempat wisata.

  • Jangan ragu untuk ikut tur lokal seperti Bosphorus Cruise

  • Sisihkan waktu untuk mengunjungi tempat ibadah yang tenang seperti Masjid Suleymaniye

  • Nikmati waktu sendiri-karena solo traveling bukan tentang kesendirian, tapi tentang kebebasan.

Apakah Istanbul Aman untuk Solo Traveler?

Secara umum, kawasan wisata utama Istanbul cukup aman untuk wisatawan. Meski demikian, tetaplah waspada terhadap barang bawaan, terutama di area yang ramai seperti Grand Bazaar, Spice Bazaar, atau halte transportasi umum. Seperti kota besar lainnya di dunia, kehati-hatian tetap diperlukan selama bepergian sendiri.

 Turki dalam 5 Hari, Pulang dengan Jiwa dan Raga Penuh Kedamaian

Lima hari mungkin terdengar singkat untuk menjelajahi Istanbul. Namun perjalanan ini meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi saya. Dari kemegahan masjid-masjid bersejarah, ramainya bazar tradisional, indahnya Selat Bosphorus, hingga ketenangan yang saya rasakan saat berada di Masjid Suleymaniye, semuanya menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Istanbul bukan hanya kota wisata, tetapi juga kota yang menyimpan sejarah, budaya, dan kedamaian dalam satu tempat.

Tentu saya akan balik lagi ke Turki. InsyaAllah. Turki memberiku ruang untuk mengenal diri, menikmati sejarah, dan merasakan kedamaian spiritual. Jika kamu sedang merencanakan solo traveling, Turki bisa jadi pilihan yang sempurna.

FAQ Solo Traveling ke Turki

Apakah Turki aman untuk solo traveler perempuan?

Secara umum ya. Kawasan wisata utama Istanbul cukup ramai dan aman, namun tetap gunakan kewaspadaan seperti saat berwisata ke kota besar lainnya.

Berapa hari ideal untuk liburan ke Istanbul?

Lima hari sudah cukup untuk mengunjungi tempat-tempat utama seperti Blue Mosque, Hagia Sophia, Topkapi Palace, Bosphorus Cruise, dan beberapa bazar terkenal.

Kapan waktu terbaik berkunjung ke Istanbul?

Musim semi (April–Mei) dan musim gugur (September–Oktober) sering dianggap sebagai waktu terbaik karena cuaca lebih nyaman untuk berjalan kaki.

Apakah mudah menemukan makanan halal di Turki?

Sangat mudah. Sebagian besar restoran di Turki menyajikan makanan halal sehingga wisatawan Muslim tidak perlu khawatir.

Apakah transportasi umum di Istanbul mudah digunakan?

Ya. Istanbul memiliki jaringan tram, metro, bus, dan feri yang terhubung dengan baik. Wisatawan dapat menggunakan Istanbulkart untuk memudahkan pembayaran transportasi umum.

 

Rekomendasi untuk Perjalanan Berikutnya

Setelah beberapa tahun tinggal di Belanda, saya menyadari bahwa negara kecil ini menyimpan banyak tempat menarik yang sering luput dari perhatian wisatawan. Mulai dari kota-kota bersejarah, desa-desa cantik, taman bunga, hingga wisata kanal yang ikonik. Jika suatu hari kamu berencana berkunjung ke Belanda, ada banyak aktivitas dan tur yang bisa dipilih sesuai gaya perjalanan masing-masing.

📎 Baca Juga: Yang punya rencana liburan ke Belanda

Untuk perjalanan jauh seperti Jakarta–Amsterdam, saya biasanya memilih penerbangan yang nyaman dengan rute transit yang jelas agar perjalanan lebih tenang dan tidak terlalu melelahkan.

Penerbangan yang nyaman

Cuaca di Turki

Cuaca di Turki cukup beragam karena wilayahnya sangat luas dan berada di antara dua benua, Asia dan Eropa. Di kota seperti Istanbul, cuacanya cenderung sedang dengan empat musim yang cukup jelas: musim dingin bisa terasa cukup dingin dan lembap, sementara musim panas biasanya hangat hingga cukup panas, terutama di bulan Juli dan Agustus. Musim semi dan musim gugur sering dianggap waktu terbaik untuk berkunjung karena suhu lebih nyaman untuk berjalan kaki dan menjelajahi kota. Namun, cuaca di Istanbul juga bisa cukup berubah-ubah dalam satu hari, jadi sebaiknya selalu membawa jaket ringan atau payung kecil saat bepergian.

Sebelum berlibur selalu memeriksa prakiraan cuaca. Coba periksa link berikut, prakiraan cuaca di Turki.

GooglePhoto – Istanbul Turki

Dibawah ini ada beberapa link embed terkait menuju ke dunia maya maupun ke GooglePhoto. 

GooglePhoto: Istanbul | Turki

POSTINGAN TERKAIT

Perbandingan suasana puasa di Belanda dan Indonesia dengan perbedaan waktu, budaya, dan lingkungan
Suasana kuliner halal di Belanda dengan berbagai pilihan makanan yang cocok untuk wisatawan Muslim
Ilustrasi tips wisata halal di Belanda untuk wisatawan Muslim yang ingin traveling dengan nyaman
Masjid di Belanda sebagai tempat ibadah umat Muslim di berbagai kota di Negeri Kincir Angin

 

2 responses to “Solo Traveling ke Turki: 5 Hari Menyusuri Keindahan Istanbul dan Kedamaian di Masjid Suleymaniye”

  1.  Avatar
    Anonymous

    Thank you for this content. It’s beautiful! It soothes the heart when you look at it. It’s so beautiful, it feels like a painting. Wow, what a truly stunning visual! Seriously, this is a work of art! The beauty is beyond words. Don’t forget to visit my official website https://wisata72.livejournal.com/

  2. […] angin dan tulip, itu pasti keju. Dulu, saat aku pertama kali menginjakkan kaki di negara ini, aroma khas keju langsung menyambutku. Keju bukan sekadar makanan di sini, melainkan bagian dari budaya dan […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Elly Avatar

About the author